Home MIGAS TS ESC-B20 Dukung Percepatan Ekosistem Kendaraan Listrik
MIGAS

TS ESC-B20 Dukung Percepatan Ekosistem Kendaraan Listrik

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Task Force Energy, Sustainability and Climate Business 20 (TS ESC-B20) mendukung penuh pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia melalui policy recommendation dan policy action di sektor energi.

Task Force Energy, Sustainability and Climate Business 20 yang terdiri dari 8 Co Chairs dari industri energi global dan 150 lebih eksekutif dari negara-negara G20 telah menghasilkan tiga pilar rekomendasi.

Ketiga pilar tersebut adalah mempercepat transisi ke penggunaan energi berkelanjutan dengan mengurangi intensitas karbon. Kemudian memastikan transisi yang adil, teratur, dan terjangkau menuju penggunaan energi berkelanjutan. Dan yang terakhir meningkatkan akses masyarakat untuk mengonsumsi energi bersih dan modern.

“Dalam diskusi strategis seputar policy recommendation yang kami kembangkan di dalam Task Force Energy, Sustainability and Climate, salah satunya kami juga menekankan peran penting kendaraan listrik dalam transisi energi,“ kata Chair of TF ESG, Nicke Widyawati, dalam B20 Side Event Ready to eMove yang digelar di Jakarta pada Selasa (4/10/2022).

Dalam Focus Group Discussion bekerja sama dengan Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Nicke Widyawati menjelaskan salah satu upaya untuk mencapai target pemerintah Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC) untuk meningkatkan pengurangan emisi dan mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060 bertumpu pada sektor energi, di mana implementasi kendaraan listrik akan memainkan peran kunci.

“Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, ditargetkan di Indonesia setidaknya ada 2 juta sepeda motor listrik akan digunakan di jalan pada tahun 2025 dan sekitar 13 juta sepeda motor listrik digunakan pada 2030,” ujarnya.

“Pemerintah telah mengeluarkan beberapa regulasi untuk memfasilitasi dan mempercepat penggunaan kendaraan listrik,” tambah Nicke.

Menurut Nicke, TF ESC-B20 juga telah menyusun beberapa policy action untuk mendukung percepatan pengembangan kendaraan listrik antara lain policy action 1.1 yakni meningkatkan laju peningkatan efisiensi energi di sektor transportasi, gedung dan industri. Kemudian policy action 1.4 yakni secara progresif meningkatkan jumlah potensi dan kemudahan akses pembiayaan ke negara berkembang untuk mempercepat transisi energi.

Selanjutnya policy action 2.3 yakni membantu kesiapan transisi energi dengan memastikan kemampuan sumber daya manusia untuk mengakomodasi perubahan misalnya transfer knowledge, upskilling dan workshop. Policy action 2.4 yakni memastikan praktik penambangan dari mineral esensial secara berkelanjutan untuk teknologi transisi energi.

“Sedangkan policy action 3.1 yakni mempercepat penyebaran solusi akses energi terintegrasi termasuk off-grid dengan partisipasi masyarakat dan elektrifikasi berbasis grid untuk memperluas akses energi dan meningkatkan ekonomi yang sejahtera,” ujar Nicke.

Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa dalam mendorong penggunaan kendaraan listrik yang tepat sasaran dan mewujudkan manfaat sosio-ekonomi secara luas dari penggunaan kendaraan listrik, maka dibutuhkan dukungan dari berbagai stakeholder untuk mengatasi berbagai hambatan dalam konsumen mengadopsi kendaraan listrik, menangkap peluang pertumbuhan industri, dan perlindungan dari risiko yang mungkin timbul.

“Sebagai salah satu entitas bisnis dalam TF ESC-B20, Pertamina juga telah menunjukkan komitmennya pada pengembangan ekosistem kendaraan listrik dengan bergabung dalam Indonesia Battery Corporation (IBC) yang merupakan perusahaan patungan BUMN yang akan beroperasi untuk memproduksi baterai EV,” paparnya.

Selain itu, kata dia, Pertamina telah mengoperasikan 6 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di DKI Jakarta dan Bali.

“Saat ini, Pertamina juga telah memiliki 238 GES yang telah terpasang panel surya, 6 unit Charging Station untuk pengisian mobil listrik, dan 14 unit Battery Swapping Station untuk penukaran baterai motor listrik,” ujarnya.

Menurut Nicke, Pertamina menargetkan nantinya semua outlet baik sisi hilir maupun hulu akan ditingkatkan dari energi baru terbarukan.

“Untuk itu diperlukan sinergi antar pemangku kepentingan di industri kendaraan listrik, mulai dari pemerintah, pabrikan, pengguna kendaraan listrik, dan asosiasi sebagai wadah bertukar pikiran dan evaluasi perkembangan industri,” pungkas Nicke.(**)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Proyek Bioetanol Lampung Masuk Fase Krusial, Toyota hingga Pertamina Siap Tancap Gas

Lampung, Situsenergi.com Pemerintah mulai menggeber pengembangan bioetanol di Lampung sebagai bagian dari...

Hari Kartini: Pelaut Perempuan Pertamina Jaga Distribusi Energi hingga Rute Global

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina Patra Niaga menyoroti peran strategis pelaut perempuan dalam...

Elnusa Genjot SDM Unggul, Kunci Daya Saing di Tengah Transformasi Energi

Jakarta, situsenergi.com PT Elnusa Tbk (ELSA) memperkuat strategi bisnis dengan menempatkan pengembangan...

Tidak Benar Abaikan Pelaut Indonesia, Sebanyak 4.090 WNI Dipekerjakan Di Kapal Pertamina

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina International Shipping (PIS) adalah anak usaha PT Pertamina...