Home MIGAS Meski Sulit Konversi LPG Ke Kompor Induksi Bisa Berhasil, Ini Syaratnya!
MIGAS

Meski Sulit Konversi LPG Ke Kompor Induksi Bisa Berhasil, Ini Syaratnya!

Share
Meski Sulit Konversi LPG Ke Kompor Induksi Bisa Berhasil, Ini Syaratnya!
Share

Jakarta, Situsenergi.com

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) alias PLN membenarkan bahwa program konversi gas LPG ke kompor induksi (kompor listrik) tidak mudah dilakukan. Namun bukan berarti program ini mustahil untuk direalisasikan demi penghematan belanja APBN lantaran adanya subsidi energi pada gas LPG.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan kunci sukses dari program konversi ini adalah sosialisasi yang masif. Dengan tersampaikannya informasi yang benar dan meluas terkait kelebihan atau manfaat kompor induksi, secara perlahan-lahan masyarakat pasti akan menerimanya dengan penuh kesadaran.

“Ini perlu sosialisasi. Kita tahu jaman dulu kita masih ingat memasak pakai bahan kayu. Memang ini gaya hidup jama dulu tetapi kemudian bergeser ke kompor minyak tanah lalu ke LPG. Jadi kedepan gaya hidup ini akan bergeser ke arah penggunaan energi listrik,” kata Darmawan dalam bincang-bincang Energy Corner, Senin (14/2/2022).

Dijelaskan bahwa penggunaan kompor induksi akan sangat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap gas LPG. Padahal saat ini hampir 80 persen gas LPG adalah impor. Di sisi lain distribusi gas LPG khususnya gas ukuran 3 Kg mengandung subsidi bagi keluarga tidak mampu.

Alhasil, kata Darmawan, belanja APBN untuk subsidi energi gas LPG sangat besar yang mencapai sekitar Rp1,4 triliun. Sementara untuk impor LPG nilainya mencapai Rp25,9 triliun. Apabila program konversi ini berhasil penghematan uang negara akan sangat besar sekali. Terlebih saat ini PLN tengah over suplai listrik.

“Listrik di Indonesia saat ini over suplai atau ada kelebihan sekitar 6,7 Giga watt. Jadi perubahan dari LPG ke kompor listrik adalah perubahan pemanfaatan energi yang berbasis impor menjadi energi berbasis produksi domestik,” ucapnya.

Untuk menyukseskan program konversi ini, pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan industri pendukung. Sebab perubahan pemanfaatan LPG ke kompor induksi mengharuskan konsumen berganti peralatan masaknya lantaran tipikal kompor induksi sangat berbeda dengan kompor LPG.

“Kemudian industri pendukung perlu di bangun, lalu ada realokasi subsidi yang tadinya membebani APBN. Ini memang sedang digodog demi mendorong terjadinya pergeseran gaya hidup,” sambung Darmawan. (DIN/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Lelang 110 Blok Migas Dibuka, Sigma Energy Siap Garap Peluang Bisnis Baru

Jakarta, situsenergi.com Rencana lelang 110 blok migas oleh Kementerian ESDM langsung disambut...

Menata Ulang Subsidi BBM untuk Pemerataan Akses Energi Nasional

Oleh : Dina Nurul FitriaAnggota Dewan Energi Nasional Unsur Konsumen 2020–2025 Subsidi...

Pasar Murah Pertamina Dimulai dari Tuban, Paket Sembako Rp211 Ribu Dijual Rp30 Ribu

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) menggelar program pasar murah untuk membantu masyarakat...

IRESS Desak Kejagung Kejar Dugaan Kerugian Pada AP BUMN Rp451 Miliar Terkait Perusahaan Samin Tan

Jakarta, situsenergi.com Penetapan Samin Tan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam kasus...