Home ENERGI Gambaran Besar Tantangan Sektor Energi Di 2021
ENERGI

Gambaran Besar Tantangan Sektor Energi Di 2021

Share
Share

Jakarta, Situsenergy.com

Sektor energi, diperkirakan masih akan menghadapi sejumlah tantangan di tahun 2021. Selain harga komoditas yang terus berfluktuatif, kondisi lainnya seperti peningkatan impor BBM yang masih terus terjadi, sehingga hal itu akan menggerus devisa negara.

Meski demikian, di tahun 2021 ini dipercaya akan menjadi titik.balik dari perekonomian Indonesia yang sempat porak poranda akibat pandemi Corona di sepanjang 2020 lalu.

Hal itu terungkap dalam webinar mengenai outlook energi 2021 yang diselenggarakan kemarin, Rabu (6/1/2021), dengan narasumber antara lain Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, Djoko Siswanto. Lalu Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril dan Direktur PT Adaro Power, Dharma Djojonegoro.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, Djoko Siswanto dalam pemaparannya menyebutkan bagaimana Indonesia masih sangat tergantung dengan impor BBM. Hal ini tentu berpengaruh pada pos anggaran dan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021.

“Padahal di Indonesia tersedia beberapa sumber energi lain yang bisa menggantikan BBM sehingga ini dapat mengurangi impor bahan bakar minyak [BBM]. Apabila ini bisa dilakukan maka akan terjadi penghematan biaya untuk impor BBM tersebut,” ujar Djoko.

Dia menyebutkan, sumber energi yang dapat mengurangi ketergantungan BBM dari luar negeri antara lain gas, tenaga surya, air, dan batu bara. Namun untuk mendukung penggunaan sumber energi tersebut masih membutuhkan infrastruktur yang memadai.

“Butuh pembangunan jaringan transmisi listrik, jaringan gas antarpulau, pengoptimalan sumber minyak dalam negeri dengan peningkatan produksi 1 juta barel per hari. Diharapkan 2026 terselesaikan sehingga terjadi penghematan devisa USD 11,2 miliar per tahun,” ungkap Djoko.

Sementara itu Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril dalam paparannya mengatakan, dengan adanya pandemi Covid-19, hingga November 2020 memang ada tekanan dalam konsumsi listrik untuk bisnis dan industri. Namun ini berbeda dengan rumah tangga yang justru meningkat karena adanya kebijakan WFH. Termasuk tumbuhnya industri rumahan.

Kendati demikian, menurutnya ada sejumlah kebijakan pemerintah yang diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2021.

“Contohnya dengan adanya kerja sama dengan sejumlah investor dari luar negeri dalam pengembangan industri baterai. Termasuk juga di mana PLN berpartisipasi dalam mendukung sektor pertanian dan perikanan untuk pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” ungkapnya.

Sementara itu Direktur PT Adaro Power, Dharma Djojonegoro menyatakan bahwa pihaknya siap mendukung kebijakan pemerintah dalam hal ini, termasuk apa yang dilakukan PLN. Adaro juga menyatakan siap untuk mengembangkan gasifikasi batubara untuk Dimethyl Ether (DME), guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2021.

“DME sebagai alternatif pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG) untuk memenuhi kebutuhan energi di rumah tangga. Langkah strategis ini diyakini bisa untuk menekan impor LPG sehingga mengghemat pengeluaran anggaran untuk impor,” pungkas Dharma. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Solusi Percepat Transisi Energi

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG) berbasis limbah kelapa sawit kini...

Rig PDSI Temukan Minyak 3.176 Barel per Hari, Sumur Baru di Prabumulih Bikin Optimistis

Jakarta, situsenergi.com Kinerja pengeboran PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) kembali mencuri...

Bioenergi Disebut Mampu Pangkas 12 Juta Ton Emisi dan Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan bioenergi nasional dinilai mampu memberikan manfaat ganda, mulai dari...

Selat Hormuz dan Perpres 26/2026 : Ketika Negara Belajar Membeli Minyak dalam Keadaan Darurat

Oleh : Andi N Sommeng Ada saat ketika negara tidak cukup hanya...