Jakarta, situsenergi.com
Langkah PT Pertamina Patra Niaga memperluas sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) menjadi lima lokasi strategis di Indonesia mendapat apresiasi positif dari Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan bukti bahwa Pertamina tidak hanya berbicara mengenai transisi energi dan decarbonization, tetapi mulai membangun fondasi bisnis energi berkelanjutan yang memiliki standar internasional.
“Saya bangga dan memberikan apresiasi kepada Pertamina Patra Niaga. Perluasan sertifikasi ISCC ini bukan sekadar persoalan mendapatkan sertifikat, tetapi menunjukkan bahwa Pertamina serius membangun ekosistem Sustainable Aviation Fuel atau SAF dari sisi tata kelola, traceability, rantai pasok hingga aspek keberlanjutannya,” ujar Sofyano Zakaria.
Menurut Sofyano, kesiapan tersebut menjadi semakin penting karena industri penerbangan dunia sedang bergerak menuju penggunaan bahan bakar penerbangan yang lebih rendah emisi. Indonesia, kata dia, tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk SAF dari luar negeri, tetapi harus mampu menjadi pemain yang memiliki kemampuan produksi, pengelolaan, distribusi, hingga sertifikasi yang diakui secara internasional.
“Ini momentum yang sangat baik. Kalau Indonesia ingin memiliki industri penerbangan yang kompetitif sekaligus memenuhi tuntutan pengurangan emisi, maka SAF harus dipersiapkan secara serius. Dan Pertamina Patra Niaga memiliki posisi yang sangat strategis karena menguasai infrastruktur dan jaringan distribusi energi untuk penerbangan,” tegasnya.
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga memperluas sertifikasi ISCC menjadi lima lokasi. Pada 2026, perluasan tersebut mencakup Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda dan Integrated Terminal (IT) Surabaya, melengkapi AFT Soekarno-Hatta, AFT Halim Perdanakusuma, dan AFT Ngurah Rai.
Sertifikasi ISCC tersebut telah terbit pada 8 Agustus 2026 dan berlaku selama satu tahun. Sertifikasi ini menjadi bagian dari upaya memastikan pengelolaan SAF beserta atribut keberlanjutannya memenuhi aspek compliance, governance, traceability, dan Chain of Custody sesuai standar keberlanjutan yang diakui secara internasional.

Sofyano menilai masuknya IT Surabaya sebagai lokasi pertama di lingkungan Pertamina Patra Niaga yang memperoleh sertifikasi ISCC juga merupakan perkembangan penting.
“Ini menunjukkan bahwa standar keberlanjutan tidak berhenti di terminal bahan bakar penerbangan, tetapi mulai diperluas ke rantai pasok. Justru hal seperti inilah yang dibutuhkan agar SAF benar-benar memiliki kredibilitas ketika digunakan oleh maskapai,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan sertifikasi di AFT Juanda juga membuka peluang lebih besar untuk melayani permintaan voluntary dari maskapai di Surabaya dan wilayah sekitarnya.
Lebih jauh, Sofyano menilai kesiapan Pertamina Patra Niaga tersebut menjadi modal penting menghadapi rencana implementasi mandat SAF Pemerintah Indonesia mulai 2027.
“Jangan sampai ketika mandat SAF diberlakukan, infrastrukturnya belum siap. Apa yang dilakukan Pertamina Patra Niaga sekarang menunjukkan mereka sedang mempersiapkan diri lebih awal. Ini patut diapresiasi karena membangun bisnis energi baru tidak cukup hanya dengan kebijakan, tetapi membutuhkan infrastruktur, sertifikasi, SDM, tata kelola dan rantai pasok yang nyata,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memberikan dukungan kebijakan agar pengembangan SAF tidak berhenti pada aspek kewajiban regulasi, tetapi berkembang menjadi industri nasional yang menciptakan nilai tambah.
“SAF harus kita lihat bukan semata-mata sebagai kewajiban mengurangi emisi. Ini juga peluang ekonomi. Indonesia memiliki potensi bahan baku biofuel yang besar. Kalau ekosistemnya dibangun dengan benar, SAF dapat menjadi bagian dari kekuatan baru industri energi nasional,” kata Sofyano.
Ia menilai langkah Pertamina Patra Niaga tersebut sejalan dengan Dual Growth Strategy Pertamina dalam mengembangkan ekosistem biofuel dan bisnis rendah karbon serta mendukung target Net Zero Emission Indonesia 2060.
“Sekali lagi, saya mengapresiasi capaian Pertamina Patra Niaga. Ini langkah konkret yang menunjukkan bahwa transformasi energi Pertamina bukan sekadar slogan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana sertifikasi dan kesiapan ini diterjemahkan menjadi bisnis SAF yang kompetitif, berkelanjutan dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi kepentingan nasional,” pungkas Sofyano. (Ebs)
- bahan bakar penerbangan berkelanjutan
- biofuel Indonesia rantai pasok SAF
- dekarbonisasi penerbangan
- ISCC SAF Indonesia
- mandat SAF Indonesia
- Net Zero Emission 2060
- Pertamina Patra Niaga
- SAF 2027
- SAF Indonesia
- sertifikasi ISCC Pertamina
- SOFYANO ZAKARIA
- Sustainable Aviation Fuel
- Sustainable Aviation Fuel Indonesia
- Transisi Energi
Leave a comment