Jakarta , situsenergi.com
Kinerja ekspor migas Indonesia pada Juli 2026 kembali melemah di tengah lonjakan impor bahan bakar minyak (BBM). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor migas hanya mencapai USD0,79 miliar, turun 14,58% dibandingkan Juli 2025. Penurunan ini membuat ekspor migas secara kumulatif JanuariāJuli 2026 terkoreksi 10,63% menjadi USD7,02 miliar, dari sebelumnya USD7,85 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, pelemahan ekspor migas terjadi karena penurunan volume dan harga minyak mentah di pasar global. āSementara impor migas justru melonjak 40,24% menjadi USD25,77 miliar, terutama dari pembelian BBM untuk kebutuhan industri dan transportasi,ā ujarnya di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Kenaikan impor BBM tersebut menjadi faktor utama penyusutan surplus perdagangan nasional. Neraca perdagangan kumulatif JanuariāJuli 2026 tercatat surplus USD3,70 miliar, jauh menurun dari USD23,77 miliar pada periode sama tahun lalu. Adapun surplus Juli 2026 hanya USD0,12 miliar, tertahan oleh defisit migas.

Di sisi lain, ekspor nonmigas masih tumbuh positif 5,21% menjadi USD160,01 miliar, ditopang industri pengolahan seperti olahan nikel, kimia organik, aluminium, dan minyak kelapa sawit. Namun, lonjakan impor bahan baku dan BBM membuat tekanan terhadap neraca perdagangan semakin kuat. (DIN/GIT)
Leave a comment