Jakarta, situsenergi.com
Serikat Pekerja PT Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI) mendorong agar proses transformasi dan penyederhanaan struktur atau streamlining di lingkungan Pertamina Subholding Upstream (SHU) tidak hanya berorientasi pada efisiensi organisasi, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bisnis dan memperkuat kapasitas pengeboran nasional.
Ketua Umum SP PDSI, Rahmat Wijaya, menilai posisi PDSI sangat strategis dalam mendukung pencapaian target produksi minyak dan gas nasional. Menurutnya, kegiatan pengeboran merupakan salah satu tahapan paling menentukan dalam rantai bisnis hulu migas karena keberhasilan pengeboran akan berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan produksi.
“Transformasi organisasi memang diperlukan agar perusahaan semakin adaptif. Namun, keberhasilan streamlining tidak cukup diukur dari jumlah struktur yang dikurangi atau organisasi yang dilebur. Ukurannya harus berupa nilai tambah bagi Pertamina, efisiensi operasional, rasionalitas bisnis, serta keandalan jangka panjang,” ujar Rahmat di Jakarta, 10 Agustus.
Rahmat menegaskan, PDSI memiliki modal strategis untuk menjadi National Drilling Champion. Saat ini, perusahaan mengoperasikan 58 unit rig yang menjadi salah satu armada pengeboran terbesar di Asia Tenggara.
Menurutnya, skala tersebut memberikan keuntungan economies of scale, mulai dari efisiensi biaya operasional, optimalisasi utilisasi aset, standardisasi penerapan keselamatan dan HSSE, hingga fleksibilitas mobilisasi rig untuk mendukung kegiatan pengeboran di berbagai wilayah Indonesia.
Karena itu, SP PDSI berpandangan bahwa konsolidasi dan penguatan fungsi pengeboran dalam satu entitas yang fokus justru dapat menjadi bagian dari strategi efisiensi Pertamina.
“Memperkuat dan mengkonsolidasikan fungsi pengeboran ke dalam satu wadah yang fokus seperti PDSI merupakan bentuk efisiensi itu sendiri. Dengan skala yang kuat, kompetensi dapat dikembangkan dan aset dapat dimanfaatkan secara lebih optimal,” katanya.
SP PDSI juga meminta agar aspek sumber daya manusia dan kompetensi pengeboran ditempatkan sebagai aset strategis. Pekerja pengeboran, menurut Rahmat, tidak semestinya hanya dipandang sebagai cost center, melainkan sebagai sumber keunggulan kompetitif perusahaan.
Pengalaman, keahlian teknis, serta modal intelektual insan pengeboran yang dibangun selama puluhan tahun merupakan aset penting yang perlu dipertahankan melalui pengembangan center of excellence.
“Yang kami perjuangkan bukan semata-mata nama atau struktur organisasi, tetapi keberlangsungan kompetensi pengeboran nasional. Memperkuat PDSI sebagai National Drilling Champion berarti memperkuat daya saing Pertamina sekaligus mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Rahmat.

SP PDSI menyatakan siap menjadi mitra strategis manajemen dalam proses transformasi, dengan mengedepankan objektivitas, profesionalisme, efisiensi, dan penciptaan nilai maksimal bagi Pertamina serta negara.[rw]
Leave a comment