Home ENERGI Merusak Alam, Aktivis Minta Perbankan Tak Fasilitasi Obligasi Adaro Energy
ENERGI

Merusak Alam, Aktivis Minta Perbankan Tak Fasilitasi Obligasi Adaro Energy

Share
Share

Jakarta, situsenergi.com

Asosiasi peduli lingkungan yang terdiri dari BankTrack, Ekō, Artivist Network, Market Forces, Enter Nusantara, dan Toxic Bonds Network mendesak bank-bank di Asia Tenggara termasuk perbankan di Indonesia untuk tidak memfasilitasi penerbitan obligasi baru oleh PT Adaro Energy Indonesia Tbk sebagai salah satu perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia.

Reka Maharwati, koordinator Enter Nusantara mengatakan bahwa Adaro berpotensi bakal menerbitkan obligasi lagi sebagai upaya untuk membayar utang obligasi yang jatuh tempo pada 31 Oktober 2024 senilai USD750 juta.

Dorongan agar perbankan tidak memfasilitasi penerbitan obligasi yang kemungkinan akan dilakukan perseroan karena Adaro karena proyek PLTU yang dibangun berkapasitas 1,1 gigawatt (GW) di Kawasan Industri Hijau Indonesia, Kalimantan Utara sangat merusak lingkungan.

Selain itu Adaro juga dinilai Adaro berencana membuka tambang batubara metalurgi baru di tiga konsesi. Padahal batubara metalurgi juga berkontribusi signifikan terhadap krisis iklim, yang menunjukkan ketidakkonsistenan transisi Adaro menuju komitmen hijau.

“Setiap lembaga keuangan yang mendukung Adaro berarti turut serta dalam memperburuk krisis iklim dan membahayakan kelangsungan hidup generasi mendatang,” kata Reka dalam keterangannya, Jumat (27/9/2024).

Di tengah meningkatnya bencana ekstrem akibat krisis iklim di Indonesia dan di seluruh dunia, bank-bank nasional Indonesia masih terus membiayai proyek batu bara, salahnya proyek PLTU Adaro. Langkah ini jelas bertentangan dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk mempercepat pensiun dini PLTU batubara.

“Komitmen iklim perbankan nasional juga tertinggal jauh dari tren global, di mana semakin banyak lembaga keuangan yang meninggalkan pembiayaan batubara,” tambahnya.

Di sisi lain, Adaro Energy menyatakan akan menghentikan ketergantungan pada batubara. Namun pekan lalu, perusahaan mengumumkan rencana untuk melepaskan 99,9 persen sahamnya di anak usahanya yang memegang bisnis batubara, yakni PT Adaro Andalan Indonesia (AAI).

Namun, perusahaan belum mengumumkan batas produksi batubara atau kapan keluar sepenuhnya dari bisnis batubara. Bahkan, mereka berencana memperkuat produksi batubara metalurgi dengan memperluas operasi di tambang batu bara yang ada di Indonesia dan Australia.

“Kurangnya komitmen dari bank-bank akan terus memungkinkan penambang batubara seperti Adaro, menerima dukungan finansial yang berkelanjutan untuk melanjutkan ekspansi batubara yang merusak iklim,” katanya. (DIN/SL)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Selat Hormuz dan Perpres 26/2026 : Ketika Negara Belajar Membeli Minyak dalam Keadaan Darurat

Oleh : Andi N Sommeng Ada saat ketika negara tidak cukup hanya...

Kemenkeu-ESDM Kompak Gaspol! Purbaya dan Bahlil Siap Genjot PNBP hingga Listrik Desa

Jakarta, situsenergi.com Kementerian Keuangan dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)...

Elnusa Tancap Gas di Awal 2026, Angkut BBM Tembus 7 Juta KL

Jakarta, situsenergi.com PT Elnusa Tbk mencatat performa operasional positif sepanjang kuartal I...

Bahlil Rombak Struktur ESDM, 19 Pejabat Tinggi Langsung Dilantik

Jakarta, Situsenergi.com Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, merombak...