Home MIGAS Output Arab Saudi Melonjak, Harga Minyak Langsung Anjlok
MIGAS

Output Arab Saudi Melonjak, Harga Minyak Langsung Anjlok

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional ditutup anjlok USD1,45 atau 1,8 persen, menjadi USD80,54 per barel, pada Kamis (4/11/2021) atau Jumat (5/11/2021) pagi WIB, setelah sebelumnya, Brent naik menjadi USD84,49 per barel.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, menyusut USD2,05, atau 2,5 persen, menjadi menetap di posisi USD78,81 per barel, jauh dari level tertinggi sesi di USD83,42, demikian menurut laporan Reuters di New York hari ini. 

Merosotnya harga minyak tersebut membalikkan kenaikan sebelumnya dalam sesi yang bergejolak setelah laporan, bahwa produksi Arab Saudi akan segera melampaui 10 juta barel per hari untuk pertama kalinya sejak awal pandemi Covid-19.

Laporan dari TV Al  Arabiya milik Saudi, muncul setelah negara itu, bersama dengan OPEC dan sekutunya, setuju untuk tetap berpegang pada peningkatan produksi yang disepakati sebelumnya.

Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC Plus, sepakat untuk tetap berpegang pada rencana guna meningkatkan produksi minyak sebesar 400.000 barel per hari setiap bulan, kata narasumber, meski ada desakan dari Amerika Serikat untuk pasokan tambahan guna meredakan lonjakan harga.

Arab Saudi menolak seruan untuk peningkatan pasokan minyak yang lebih cepat dari OPEC Plus. Tetapi laporan TV Al Arabiya mengatakan Saudi akan mencapai 10 juta barel per hari pada Desember.

Stok minyak akan mengalami peningkatan “luar biasa” pada akhir 2021 dan awal 2022 karena konsumsi yang melambat, ungkap Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, Kamis.

Harga minyak, yang sebelumnya melambung lebih dari USD2 per barel, mulai memangkas kenaikan saat OPEC Plus bertemu.

“Posisi (spekulatif) yang besar sedang dimuat” sebelum OPEC , kata Bob Yawger, Direktur Mizuho.

Yawger mengatakan pedagang kemudian cenderung untuk menjual dan mengambil keuntungan daripada risiko bahwa pasar bisa tergelincir lebih jauh karena Gedung Putih menyerukan peningkatan produksi.

“Mereka lebih suka membukukan keuntungan daripada terlihat terbakar oleh serangan balasan Biden,” kata Yawger, merujuk pada Presiden Joe Biden.

Kamis, Gedung Putih mengkritik keputusan produsen minyak untuk menjaga produksi minyak tetap stabil, dengan mengatakan OPEC dan sekutunya tampaknya “tidak mau” menggunakan kekuatan mereka untuk membantu pemulihan ekonomi global.

Produsen utama Arab Saudi dan Rusia yakin harga minyak yang lebih tinggi tidak akan menimbulkan respons cepat dari industri  shale oil  Amerika, kata sumber OPEC Plus. Perusahaan AS berjanji untuk menjaga modal mereka dan memprioritaskan keuntungan bagi investor.

Namun, beberapa perusahaan minyak besar berencana untuk meningkatkan produksi atau anggaran belanja tahun depan. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Pertamina Drilling Gandeng Halliburton, Bidik Proyek Migas hingga Irak

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) resmi menjalin kerja...

Iduladha 2026, Pertamina Salurkan Lebih dari 4.400 Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia

Jakarta, situsenergi.com Pertamina Group menyalurkan lebih dari 4.400 hewan kurban pada perayaan...

PTK Tebar Hewan Kurban Saat Iduladha 2026, Operasional Distribusi Energi Tetap Jalan

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) memastikan layanan logistik energi tetap...

Jelang Idul Adha, Pertamina dan Pemkot Samarinda Sidak SPBE LPG 3 Kg

Samarinda, Situsenergi.com PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan bersama Pemerintah Kota Samarinda...