Home MIGAS Minyak Terkoreksi, Brent dan WTI Turun Diatas USD1 Per Barel
MIGAS

Minyak Terkoreksi, Brent dan WTI Turun Diatas USD1 Per Barel

Share
Perusahaan Minyak Nigeria Order Minyak Mentah Kepada Pertamina
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak kembali merosot lebih dari USD1, Kamis, di tengah potensi adanya kelebihan pasokan, setelah gagalnya kompromi antara produsen minyak (OPEC plus) dan data mingguan yang sangat buruk pada permintaan bahan bakar Amerika.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup anjlok USD1,29 atau 1,7 persen menjadi USD73,47 per barel, demikian menurut laporan Reuters, Kamis (15/7/2021) atau Jumat (16/7/2021) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menetap di posisi USD71,65 per barel, turun USD1,48, atau 2,2 persen.

Penurunan itu melanjutkan kejatuhan Rabu, setelah Reuters melaporkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mencapai kesepakatan yang akan membuka jalan bagi perjanjian untuk memasok lebih banyak minyak mentah ke pasar yang ketat.

Namun, hingga saat ini kesepakatan belum dicapai, dan Kementerian Energi UEA mengatakan perundingan terus berlanjut.

“Itu masih ada pertanyaan yang mengganjal di benak banyak kalangan – kita punya kesepakatan, kita tidak punya kesepakatan – dan itu menimbulkan kekhawatiran,” kata Phil Flynn, analis Price Futures Group.

Perundingan di antara Organisasi Negara Eksportir, Rusia dan sekutunya, kelompok yang dikenal sebagai OPEC Plus, terhenti bulan ini setelah UEA keberatan untuk memperpanjang pakta pasokan kelompok itu di luar April 2022, dengan mengatakan kesepakatan itu tidak memperhitungkan peningkatan kapasitas output UEA.

Di Amerika Serikat, penarikan besar dalam stok minyak mentah tidak banyak mendorong harga karena investor fokus pada kenaikan persediaan bahan bakar dalam seminggu termasuk long weekend Empat Juli, ketika aktivitas berkendara biasanya melonjak.

“Semua optimisme terhadap bensin menguap hanya dalam satu minggu,” kata Bob Yawger, Direktur Mizuho.

“Jika kita tidak membutuhkan bensin, kita tidak perlu minyak mentah untuk membuat bensin, dan itulah satu-satunya matematika yang penting pada akhirnya.”

Beberapa bank, termasuk Goldman Sachs, Citi dan UBS memperkirakan pasokan akan tetap ketat dalam beberapa bulan mendatang bahkan jika OPEC Plus menyelesaikan kesepakatan untuk meningkatkan output.

OPEC, dalam laporan bulanannya, mengatakan masih memperkirakan pemulihan yang kuat dalam permintaan minyak dunia untuk sisa tahun ini, dan memproyeksikan penggunaan minyak pada 2022 akan mencapai tingkat yang sama dengan sebelum pandemi Covid-19. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PHR Sabet Gold Award EPSA 2026! Teknologi Hijau Jadi Senjata Pulihkan Lahan Tercemar

JAKARTA, Situsenergi.con PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sukses mencuri perhatian di ajang...

PHE Sabet Impact Masters Awards 2026, Komitmen ESG Makin Ngebut

JAKARTA, Situsenergi.com PT Pertamina Hulu Energi (PHE) kembali mencuri perhatian lewat kiprahnya...

Jerami Jadi Cuan! Pertamina Sulap Limbah Karawang Jadi Mesin Ekonomi Warga

KARAWANG, Situsenergi.com Jerami yang dulu kerap dibakar kini punya nilai ekonomi di...

Hari Pelanggan Nasional 2026: Pertamina Patra Niaga Banjir Apresiasi, Ada Diskon Bright Gas Rp25 Ribu!

Jakarta, situsenergi.com Hari Pelanggan Nasional 2026 menjadi momentum bagi Pertamina Patra Niaga...