Home ENERGI Minyak Dunia Relatif Stabil, Kekhawatiran Rendahnya Permintaan BBM Akibat Corona Mereda
ENERGI

Minyak Dunia Relatif Stabil, Kekhawatiran Rendahnya Permintaan BBM Akibat Corona Mereda

Share
Share

Melbourne, SitusEnergy.com

Harga minyak dunia hari ini relatif stabil. Minyak berjuang untuk mempertahankan level tertinggi lima bulan yang dicapai pada sesi sebelumnya, karena kekhawatiran permintaan bahan bakar yang disebabkan gelombang kedua infeksi virus corona melebihi depresiasi dolar AS.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, turun 3 sen, atau 0,1%, menjadi US$42,16 per barel pada pukul 08.48 WIB, sementara minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 6 sen menjadi US$45,23 per barel, demikian laporan  Reuters,  di Melbourne, Kamis (6/8/2020).

Dua kontrak tersebut melonjak lebih dari 1% pada penutupan Rabu ke level tertinggi sejak 6 Maret, melengkapi reli empat hari, setelah Badan Informasi Energi melaporkan penurunan stok minyak mentah AS jauh lebih besar dari ekspektasi.

Namun, investor tetap waspada terhadap peningkatan persediaan produk olahan AS, saat pejabat Federal Reserve mengatakan kebangkitan kasus infeksi virus korona memperlambat pemulihan ekonomi di konsumen minyak terbesar dunia itu.

Data EIA menunjukkan stok produk distilasi, meliputi minyak solar dan pemanas, naik ke level tertinggi dalam 38 tahun, dan persediaan bensin secara tak terduga meningkat untuk pekan kedua berturut-turut.

“Sulit untuk menjadi terlalu konstruktif terhadap pasar minyak dengan permintaan terhenti dan produk olahannya  overhang,”  kata ING Economics, Kamis.

EIA menghitung permintaan bensin tetap di kisaran 8,6 juta barel per hari, sekitar 10% lebih rendah dari tahun sebelumnya, tepat saat musim mengemudi di Amerika, yang disebut ANZ Research sebagai ‘periode permintaan musiman terbesar di dunia’ mereda.

Namun, pelemahan dolar AS baru-baru ini mendukung harga minyak bergerak lebih tinggi. Karena minyak berjangka dihargakan dalam dolar, harga minyak mentah cenderung naik untuk mengimbangi mata uang yang lebih lemah.

“Karena minyak dihargai dalam dolar, itu bagus bagi komoditas tersebut,” kata analis AxiCorp, Stephen Innes.

Indeks Dolar (Indeks DXY) mencatat persentase penurunan bulanan terbesar dalam satu dekade terhadap sekeranjang enam mata uang pada Juli, dan jajak pendapat  Reuters  menunjukkan sejumlah analis memperkirakan  greenback  melanjutkan depresiasi hingga tahun depan. (SNU/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Solusi Percepat Transisi Energi

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG) berbasis limbah kelapa sawit kini...

Rig PDSI Temukan Minyak 3.176 Barel per Hari, Sumur Baru di Prabumulih Bikin Optimistis

Jakarta, situsenergi.com Kinerja pengeboran PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) kembali mencuri...

Bioenergi Disebut Mampu Pangkas 12 Juta Ton Emisi dan Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja

Jakarta, situsenergi.com Pengembangan bioenergi nasional dinilai mampu memberikan manfaat ganda, mulai dari...

Selat Hormuz dan Perpres 26/2026 : Ketika Negara Belajar Membeli Minyak dalam Keadaan Darurat

Oleh : Andi N Sommeng Ada saat ketika negara tidak cukup hanya...