Home ENERGI SKK Migas Siapkan Skema Insentif Untuk KKKS Proyek  Lapangan Gas Abadi Blok Masela
ENERGI

SKK Migas Siapkan Skema Insentif Untuk KKKS Proyek  Lapangan Gas Abadi Blok Masela

Share
Share

Jakarta, SitusEnergi.com

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyiapkan sejumlah skema insentif bagi Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) yang menggarap Lapangan Gas Abadi di Blok Masela.

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengatakan, skema insentif itu sebagai bentuk kompensasi atas tingginya biaya produksi di blok Masela, dimana sesuai rencana proses pengolahan akan dilakukan on Shire atau di darat.

“Sebab, hal itu nanti kan pengaruhnya kepada kelayakan keekonomiannya, akan terkait dengan masalah-masalah harus butuh insentif atau tidak, kemudian splitnya harus bagaimana untuk bisa ke tingkat keekonomian,” kata Dwi di Jakarta, Selasa (26/3).

Dwi mengungkap, skema insentif yang bisa diberikan meliputi insentif dalam bentuk tambahan split, investment credit (kredit investasi), tax holiday (pembebasan pembayaran pajak dalam kurun waktu tertentu), dan insentif-insentif lain.

“Kalau gas, base split-nya sekarang itu kan 60:40, 60 persen negara, 40 persen kontraktor, nah itu yang bisa digeser-geser (diubah-ubah),” jelasnya.

SKK Migas, kata dia, berusaha membantu pihak KKKS agar proses pengembangan bisa lebih cepat dilakukan. “Pemerintah itu sesungguhnya berkeinginan supaya proyek ini segera jalan. Tetapi kembali lagi kalau misalnya dengan capex (capital expenditure/belanja modal) yang masih over, tinggi, kami tidak bisa memberikan insentif yang besar kepada investor. Sewajarnya saja,” tuturnya.

Sebagai informasi saja, sesuai dengan kontrak yang ditandatangani, proyek Blok Masela diprediksikan baru bisa beroperasi pada 2027. Sedangkan kontrak bagi hasil (PSC) Blok Masela akan habis di 2028. Untuk itu dalam perhitungan yang dilakukan saat ini sudah memasukkan opsi untuk  perpanjangan kontrak.

“Itu kan dia (proyek Masela) berada di laut dalam dan lain sebagainya, tetapi kondisi di Indonesia kan tidak sesulit, tidak sesusah, dengan kondisi di Australia. Mereka (Inpex) kan punya di situ juga. Kalau kita kan di sini bisa karena jaraknya juga pendek, cuma 170 kilometer (km) ke arah onshore. Sedangkan kalau di Australia itu panjang sekali,” pungkasnya. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bank Tanah Sediakan Lahan untuk PLTS 100 GWp

Jakarta, situsenergi.com Badan Bank Tanah menyiapkan lahan seluas 76 hektare di Kabupaten...

Gempa NTT Guncang Layanan Kesehatan, ESDM Kirim 48 Genset ke 7 Kabupaten

Jakarta, situsenergi.com Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengirimkan 48 genset...

Sofyano Zakaria: Streamlining Jangan Mengorbankan Kedaulatan Negara Atas Energi Nasional

Jakarta, situsenergi.com Pengamat Kebijakan Energi sekaligus Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi),...

Parama Energi Siap Bantu Pendidikan Masyarakat Meulaboh Melalui Beasiswa

Jakarta, situsenergi.com PT Prima Wiguna Parama (Parama Energi) menegaskan komitmen mendukung pendidikan...