Home LISTRIK Setelah 2030 Tambahan Pembangkit Listrik di Indonesia Hanya dari EBT
LISTRIK

Setelah 2030 Tambahan Pembangkit Listrik di Indonesia Hanya dari EBT

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Pemerintah menegaskan tambahan pembangkit listrik setelah tahun 2030 hanya bersumber dari energi terbarukan yang berarti tidak ada lagi setrum kotor yang terbuat dari bahan bakar fosil.

Hal ini disampaikan Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Yudo Dwinanda Priaadi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (04/2/2022).

“Mulai 2035 akan didominasi oleh Variable Renewable Energy (VRE) berupa PLTS, pada tahun berikutnya menyusul PLTB dan PLT arus laut. PLTP juga akan dimaksimalkan hingga 75 persen dari potensinya,” kata Yudo.

Menurutnya, Pemerintah Indonesia akan memaparkan skenario transisi energi nasional dari fosil ke energi baru terbarukan yang tertuang dalam peta jalan Grand Strategi Energi Nasional ke forum Kelompok 20 atau G20.

“Presidensi G20 Indonesia akan dimanfaatkan pemerintah untuk mengenalkan kepada dunia skenario Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat,” katanya.

“GSEN menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 100 persen pada 2060, dengan kapasitas 587 gigawatt mencakup PLTS sebesar 361 gigawatt, PLTA 83 gigawatt, PLTB 39 gigawatt, PLTN 35 gigawatt, PLTBio 37 gigawatt, PLTP 18 gigawatt, dan PLT arus laut 13,4 gigawatt,” tambah Yudi.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah tidak akan lagi menambah PLTU, kecuali yang telah kontrak dan konstruksi. PLTU milik PLN akan berhenti beroperasi lebih cepat dibandingkan revaluasi aset.

“PLTU milik perusahaan listrik swasta atau IPP pensiun setelah berakhirnya perjanjian jual beli listrik. Sedangkan, PLTGU akan berhenti beroperasi setelah usia 30 tahun,” ungkapnya

PLTA, kata dia, akan dimaksimalkan dan listriknya dikirim ke pusat-pusat beban di pulau lain agar bisa mendukung ketahanan energi nasional. Selain itu PLTA juga akan memberikan keseimbangan bagi pembangkit energi terbarukan variabel.

“Sedangkan PLTN juga akan masuk sekitar tahun 2049 untuk menjaga keandalan sistem. Adapun pumped storage akan dimulai pada 2025 dengan target 2060 sebesar 4,2 gigawatt,” kata dia.

Yudo juga menyampaikan bahwa teknologi Battery Energy Storage System (BESS) mulai masif di tahun 2031 dan kapasitasnya akan mencapai 140 gigawatt pada 2060.

“Hidrogen juga akan dimanfaatkan bertahap mulai 2031 dan mulai masif pada 2051. Hidrogen ditargetkan mencapai 52 gigawatt pada 2060,” tukasnya.(ERT/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PLN Journalist Awards 2025 Jaring 1.329 Karya, PLN Apresiasi Peran Strategis Media

Jakarta, Situsenergi.com PT PLN (Persero) kembali menggelar PLN Journalist Awards (PJA) 2025...

YBM PLN Tebar 45 Ribu Paket Ramadan 1447 H, Ribuan Warga Langsung Rasakan Manfaatnya

Jakarta, situsenergi.com Ramadan 1447 H menjadi momentum berbagi bagi insan PT PLN...

Kolaborasi Desa Jadi Kunci PLN EPI Kejar Target Biomassa 3,65 Juta Ton demi Net Zero Emission

Jakarta, situsenergi.com PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mempercepat langkah menuju...

UMKM Pantai Bagek Kembar Naik Level! PLN EPI Ajarkan Digital Marketing hingga Legalitas Usaha

Jakarta, situsenergi.com PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) langsung tancap gas...