Home ENERGI Pemerintah Diminta Tak Sungkan Naikkan Harga BBM
ENERGI

Pemerintah Diminta Tak Sungkan Naikkan Harga BBM

Share
Petugas mengisi BBM ke truk tangki pengangkut BBM di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur, Senin (30/1). Selama tahun 2016, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V telah menyalurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan total volume 9.068.388 KL (untuk semua jenis BBM) sedangkan pada triwulan keempat 2016 Pertalite mengalami kenaikan konsumsi hingga 68 persen, Pertamax naik 22 persen dan Pertamina Dex naik hingga 59 persen. ANTARA FOTO Didik Suhartono/aww/17.
Share

Jakarta, SitusEnergy.com

Eskalasi politik di Timur Tengah memanas paska aksi saling balas serangan antara Iran-AS yang didahului dengan pembunuhan pemimpin militer Iran oleh AS.

Hal yang menjadi sorotan dari konflik tersebut adalah, harga minyak dunia yang kemudian melonjak cukup signifikan di seluruh belahan dunia.

Di satu sisi, perusahaan penyedia migas Indonesia, PT Pertamina (Persero) beberapa hari kemarin justru baru saja menurunkan harga penjualan Bahan Bakar Khusus (BBK) atau BBM Non Subsidi. Hal inilah yang kemudian dikhawatirkan oleh sejumlah pihak, bahwa konflik Iran-AS bakal merembet ke kinerja Pertamina.

Menyikapi hal itu, Pengamat Energi Mamit Setiawan berpendapat, pemerintah sebagai regulator dalam penetapan harga dan formula jual BBM di Indonesia, sebaiknya tidak membebani Pertamina dengan mempertahankan harga BBM di level murah, pada saat harga minyak dunia melambung.

“Saya kira ini akan jadi buah simalakama terutama untuk Pertamina. Jika tidak menaikan maka mereka akan mengalami potensial loss karena menanggung selisih biaya produksi, khususnya pada BBM bersubsidi. Meskipun nanti akan diganti pemerintah melalui dana konpensasi, tapi dana tersebut belum tahu kapan akan dibayarkan,” ujar Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan saat dihubungi, Kamis (9/1).

Kemudian di sisi lain, perang Iran-AS juga sebetulnya memberikan dampak positif juga, khususnya karena Indonesian Crude Price (ICP) juga akan terdongkrak naik. Indonesia, kata Mamit, harus memaksimalkan potensi tersebut, meski sekecil apapun.

“Langkah yang perlu saya kira adalah kita coba berhemat pemakaian BBM serta pembangunan kilang harus segera di lakukan agar bisa mengurangi impor BBM produk. Selain itu program diversifikasi energi juga harus segera di jalankan,” tuturnya.

“Kenaikan ini saya perkirakan bisa cukup tinggi, mengingat kedua negara ini pengahasil minyak cukup besar. Pasar pasti khawatir terkait dengan stock minyak dunia bisa mencapai US$70-75 perbarel. Bulan depan saya kira akan terasa, mengingat biasanya per 2 minggu dilakukan evaluasi harga BBK. ICP juga pasti akan terkoreksi cukup besar,” imbuhnya.(SNU/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PNBP ESDM Tembus Rp138,37 T di 2025, Bahlil: Harga Turun Bukan Halangan

Jakarta, situsenergi.com Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kinerja positif...

Hub Biomassa Tasikmalaya–Ciamis Diresmikan, Perkuat Ketahanan Energi Lokal

Jakarta, situsenergi.com Direktur Bioenergi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Hokkop...

Kado Tahun Baru! Harga Pertamax Turun, Ini Daftar Lengkap BBM Pertamina

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) membuka awal 2026 dengan menurunkan harga bahan...

PLTS Percontohan Diluncurkan Di Pulau Sembur

Batam, Situsenergi.com Kementerian Koperasi bersama Pertamina melalui Pertamina NRE meluncurkan Pembangkit Listrik...