Home ENERGI Disparitas Harga Tinggi Penyebab LPG 3Kg Diselewengkan
ENERGI

Disparitas Harga Tinggi Penyebab LPG 3Kg Diselewengkan

Share
Share

Jakarta, situsenergy.com

Kebijakan Pemerintah yang belum pernah menaikkan harga elpiji 3 kg sejak pertama kali diluncurkan satu dekade lalu, menjadi keuntungan tersendiri bagi para spekulan elpiji 3 kg.

Ironisnya, ambil untung yang dilakukan oleh para “pencoleng” ini mengakibatkan alokasi komoditi untuk rakyat tidak mampu itu malah lari ke pihak yang tidak berhak.

“Ini akibat disparitas harga antara elpiji subsidi dengan non subsidi cukup besar sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka untuk menyelewengkan elpiji 3 kg ke elpiji 12 kg dan 50kg.  Kita minta agar ini menjadi perhatian Pemerintah,” kata Direktur Eksekutif Pusat Studi Kebajakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria kepada wartawan di Jakarta, Jumat (29/9).

Ia mengatakan, harga elpiji 3 kg selama ini dipatok oleh Pemerintah sama dengan harga minyak tanah subsidi di masa lalu yang ketika itu selalu tetap di angka Rp 2.500 per liter.

“Memang ini bukan barang bisnis, karenanya untuk menjual elpiji 3 kg terbukti tidak digunakan sistim marketing tetapi alocating. Tapi menurut saya, kondisi ini harus secara perlahan dirubah oleh pemerintah,” tukasnya.

Menurut Sofyano, meskipun tidak termasuk produk bisnis, ternyata elpiji 3 kg sangat diincar banyak pihak dan dijadikan ladang bisnis yang menguntungkan. “Banyak orang yang akhirnye berebut untuk menjual produk 3 kg ini. Di sisi lain, disparitas harga yang cukup tajam antara elpiji subsidi dengan elpiji non subsidi juga membuat pihak swasta tidak tertarik untuk bisnis elpiji non subsidi,” paparnya.

Hal ini, kata dia, membuat bisnis elpiji non subsidi nyaris tidak mampu memberikan laba yang maksimal buat Pertamina. “Padahal, banyak pihak yang justru mempersoalkan tidak maksimalnya peran BUMN dalam memberikan laba dan dividen kepada negara. Ini hal yang sangat bertolak belakang,” tukasnya.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) memperkirakan subsidi gas elpiji 3 kg bakal mengalami pembengkakan menjadi Rp 40 triliun di tahun 2017 atau lebih tinggi dari angka pembengkakan subsidi elpiji tahun lalu yang mencapai Rp 38 triliun.

Menurut Direktur Utama Pertamina Elia Masa Manik, tahun ini subsidi elpiji 3 kg dianggarkan sebesar Rp 20 triliun di APBN 2017. Namun diperkirakan jatah tersebut tidak cukup karena kenaikan konsumsi masyarakat serta harga acuan CP Aramco.

“Subsidi itu telah ditetapkan Rp 20 triliun. Tapi tahun ini diperkirakan menjadi Rp 40 triliun,” ungkap Elia Massa Manik di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia memperkirakan, pada masa Ramadhan hingga Lebaran nanti subsidi elpiji bisa mencapai Rp 20 triliun. “Mungkin nanti selama Ramadhan hingga jelang Lebaran ini naik dulu terus nanti turun lagi. Diperkirakan hingga pertengahan tahun sekitar Rp 20 triliun lah,” ujar Elia.

Untuk itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah dan kementerian terkait termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk mengajukan kenaikan harga.

Namun Menteri ESDM Ignasius Jonan pada kesempatan berbeda menyebutkan bahwa pemerintah telah sepakat untuk tidak menaikkan harga jual BBM dan gas elpiji 3 kg sampai Juni 2017. “Nanti yang putuskan Presiden dibahas dulu dalam rapat kabinet (soal perubahan harga BBM dan elpiji),” kata Jonan.(adi)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Pemerintah Percepat Implementasi Biodiesel B50 Guna Tekan Defisit Migas

Jakarta, situsenergi.com Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah akan mempercepat...

PGE Kembangkan Bisnis Hijau di Luar Listrik Panas Bumi

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memperluas bisnisnya dengan menyiapkan...

Harga Referensi CPO Turun, HPE Kakao dan Getah Pinus Naik

Jakarta, situsenergi.com Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Referensi (HR) crude palm oil (CPO)...

Keberhasilan Co-Firing Ditentukan Kualitas Bahan Baku Biomassa

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan program co-firing biomassa di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU)...