Aceh Tamiang, Situsenergi.com
Pertamina EP Rantau Field tancap gas memulihkan produksi minyak dan gas bumi setelah banjir besar melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025. Tak hanya mengembalikan produksi ke level stabil 1.700 barel per hari, perusahaan juga sudah memulai pengeboran lima sumur baru di tengah proses pemulihan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga pasokan energi nasional sekaligus menggali potensi cadangan migas di wilayah Aceh Tamiang. Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan timnya terus mempercepat pemulihan fasilitas dan kegiatan produksi.
“Kendati masih dalam situasi pemulihan pascabanjir, perusahaan melakukan pengeboran sumur untuk menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan produksi migas. Tajak sumur baru ini sangat penting bagi penyediaan energi nasional,” ujar Tomi.

Lima Sumur Baru Dibor di Aceh Tamiang
Pertamina EP Rantau telah memulai pengeboran sumur RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 di Desa Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru. Kedua sumur tersebut menggunakan Rig APS-752 berkapasitas 550 HP, dengan kedalaman akhir masing-masing 1.145 MMD dan 1.037 MMD.
Sementara itu, perusahaan juga mengebor sumur RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33 di Desa Paya Meta, Kecamatan Karang Baru. Sumur RNT DZ-11 menggunakan Rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP dengan kedalaman akhir 1.132 MMD, sedangkan dua sumur lainnya masih dalam proses pengeboran.
Pengeboran tersebut mendukung upaya perusahaan mempertahankan produksi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Sebagai bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 1, PEP Rantau juga menerapkan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG dalam kegiatan operasionalnya.
Listrik Jadi Kunci Kebangkitan Produksi
Pemulihan tidak berjalan mudah. Banjir dengan ketinggian sekitar 4–4,5 meter dan endapan lumpur setebal 30–80 sentimeter merusak fasilitas produksi, perkantoran, serta permukiman pekerja.

Salah satu tantangan terbesar muncul ketika pembangkit listrik dan instalasi pengolahan air terdampak. Tanpa listrik, pompa air tidak berfungsi dan kegiatan produksi minyak sempat berhenti total.
Tim kemudian mencari solusi agar pembangkit listrik kembali beroperasi. Mereka memilih memanfaatkan SP-5 yang telah dimodifikasi untuk menggantikan fungsi High Pressure Compressor Station (HPCS) yang mengalami kerusakan berat akibat banjir.
Saat ini, pasokan gas untuk pembangkit listrik berasal dari SP-5 dan SP-1. Inovasi tersebut membantu memulihkan sistem kelistrikan dan mendorong produksi kembali meningkat.
“Setiap ujian tentunya ada hikmah. Salah satu hikmahnya adalah kami melakukan simplifikasi di beberapa fasilitas. Ketika listrik sudah teratasi perlahan produksi yang sebelumnya nol barel mulai bergerak naik,” kata Tomi.
Pulih Empat Bulan, Produksi Sempat Tembus 2.000 Barel
Upaya pemulihan bertahap membawa hasil dalam waktu sekitar empat bulan. Pada Mei dan Agustus 2026, produksi minyak PEP Rantau Field sempat mencapai 2.000 barel per hari, melampaui kondisi sebelum banjir, sebelum kemudian stabil di angka 1.700 barel per hari.
Tomi menyebut bantuan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina, seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, dan Ramba, ikut mempercepat pemulihan fasilitas.
“Pertamina ini satu keluarga, jika satu tertimpa musibah yang lain datang membantu,” ujarnya.
Atas percepatan pemulihan produksi tersebut, SKK Migas memberikan penghargaan kepada Pertamina EP Rantau Field pada 8 April 2026. Perusahaan juga memastikan pekerja pengeboran mengikuti pelatihan dan sertifikasi keselamatan kerja, termasuk Basic HSSE Training, Corporate Life Saving Rules, dan Pertamina Well Control.
Di tengah pemulihan pascabencana, pengeboran lima sumur baru menandai langkah lanjutan PEP Rantau untuk menjaga produksi sekaligus mendukung keberlanjutan pasokan energi Indonesia. (***)
Leave a comment