Jakarta, Situsenergi.com
Program energi transisi yang dijalankan PT Pertamina (Persero) mulai menunjukkan dampak nyata di desa-desa. Lewat Desa Energi Berdikari (DEB), masyarakat tak hanya mendapat akses energi bersih, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dan menghadapi perubahan iklim.
Di Desa Padang Sakti, Muara Satu, Lhokseumawe, Aceh, Pertamina memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp dengan baterai 10 kWh. Energi ini menggerakkan aerator dan mesin pakan tambak, sehingga produktivitas meningkat hingga 40%. Pendapatan warga pun naik menjadi Rp6-8 juta per bulan.
Manfaat ini terasa penting saat bencana melanda Sumatra dan Aceh pada 2025. Meski tambak rusak, sistem PLTS tetap beroperasi dan membantu warga bangkit kembali. “Paskabanjir, kami sempat kehilangan segalanya. Berkat dukungan Program DEB Pertamina, kami bisa bangkit kembali,” ujar Muhrizal.

Secara nasional, program DEB memberi nilai ekonomi hingga Rp5,5 miliar per tahun dan menekan emisi hingga 1,09 juta ton CO2eq. Hingga kini, Pertamina telah membangun 252 DEB, dengan 64% berada di luar Jawa untuk mendorong pemerataan.
Dari sisi pangan, 156 DEB menghasilkan 15,8 ribu ton beras dan 890,4 ton pangan non-beras. Ini memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru di desa.

Upaya ini mendapat pengakuan global. Pertamina meraih penghargaan SEAL Awards 2026 bersama perusahaan dunia seperti Aviva Plc hingga Saudi Aramco.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan capaian ini lahir dari kolaborasi berbagai pihak. “Apresiasi internasional ini menjadi motivasi kami untuk terus menghadirkan inovasi yang memperkuat resiliensi desa,” ujarnya.
Ke depan, Pertamina akan memperluas pemanfaatan energi terbarukan seperti surya, mikrohidro, dan biogas. Langkah ini sejalan dengan target Net Zero Emission 2060 serta komitmen keberlanjutan berbasis ESG. (*)
Leave a comment