Jakarta, situsenergi.com
Banyak pelanggan masih menyamakan token listrik prabayar dengan pulsa seluler. Padahal, cara kerjanya berbeda jauh. Jika pulsa ponsel berbentuk saldo rupiah untuk internet atau telepon, token listrik justru merupakan alokasi energi listrik yang terus berkurang seiring pemakaian di rumah.
Pada sistem listrik prabayar, pelanggan membeli listrik di awal dalam satuan kilowatt hour (kWh). Artinya, setiap lampu menyala, AC menyala, atau alat elektronik digunakan, angka kWh di meteran akan terus menyusut hingga akhirnya habis dan perlu diisi ulang.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, menegaskan bahwa skema ini dirancang agar pelanggan bisa mengontrol konsumsi listrik sejak awal.
“Pada sistem prabayar, pelanggan membeli alokasi energi listrik dalam jumlah tertentu. Alokasi ini digunakan oleh seluruh peralatan listrik di rumah dan akan berkurang seiring pemakaian,” ujarnya.
PLN menekankan, listrik tidak dibagi per fungsi atau per alat. Seluruh perangkat di rumah menggunakan sumber energi yang sama, sehingga pengurangannya dihitung dari total pemakaian listrik secara keseluruhan.
Selain itu, pelanggan juga perlu memahami adanya potongan dalam setiap pembelian token. Beberapa komponen yang dipotong di awal antara lain Pajak Penerangan Jalan (PPJ) sesuai ketetapan pemerintah daerah serta biaya administrasi berdasarkan kanal pembelian. Untuk transaksi di atas Rp5 juta, berlaku pula bea materai sesuai ketentuan.
Sebagai gambaran, pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 VA yang membeli token senilai Rp100.000 tidak akan menerima nilai penuh dalam bentuk kWh. Setelah dipotong PPJ dan biaya admin, nilai konversi energi berada di kisaran Rp90.000–Rp94.000.
Dengan tarif listrik rumah tangga 1.300 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, jumlah tersebut setara sekitar 63–65 kWh. Inilah angka yang masuk ke meteran dan akan terus berkurang sesuai penggunaan listrik harian.
Gregorius kembali menegaskan bahwa token listrik prabayar memberi kendali langsung kepada pelanggan.
“Token listrik prabayar merupakan pembelian energi, bukan sekadar nominal rupiah. Seluruh perhitungannya transparan dan tercatat di sistem,” katanya.

Dengan memahami mekanisme ini, pelanggan diharapkan tidak lagi keliru membandingkan token listrik dengan pulsa seluler, sekaligus bisa mengatur konsumsi listrik secara lebih bijak dan terencana. (*)
Leave a comment