Home ENERGI Gap Produksi Energi dan Kebutuhan Makin Lebar, Ini Langkah Yang Harus Dikebut
ENERGI

Gap Produksi Energi dan Kebutuhan Makin Lebar, Ini Langkah Yang Harus Dikebut

Share
gap produksi energi dan kebutuhan makin lebar ini langkah yang harus dikebut
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyampaikan bahwa kebutuhan energi Indonesia akan meningkat secara drastis jika dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk pada tahun 2060 nanti. Pada tahun tersebut, penduduk Indonesia diproyeksikan lebih dari 330 juta jiwa dengan kebutuhan energi mencapai mencapai lebih dari 500 juta ton minyak ekuivalen.

“Pada tahun 2020, berdasarkan sensus, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270 juta jiwa, sedangkan kebutuhan energinya hanya sebesar 142 juta ton minyak ekuivalen,” ujar Arifin dalam pernyataannya dikutip, Jumat (09/06/2023).

Arifin mengatakan, terjadi kesenjangan (gap) yang semakin jauh selisihnya antara produksi dengan kebutuhan energi berupa minyak dan gas bumi (migas), sehingga apabila tidak ditemukan cadangan migas baru makan akan berimplikasi kepada subsidi yang semakin besar dan dapat menjadi beban yang sangat besar bagi keuangan negara.

“Kalau kita biarkan produksi minyak tidak ada tambahan sementara akan ada pertumbuhan demand, akan ada perbedaan sebesar 4 juta mbopd (antara produksi dengan kebutuhan), dan kalau ini dibebankan kepada beban subsidi, maka jumlah subsidinya akan tidak tertangguhkan,” jelasnya.

Meski demikian, Arifin menyebut bahwa pemerintah tengah berupaya untuk mengoptimalkan produksi migas dengan membuka lapangan-lapangan baru karena Indonesia masih memiliki sumber migas yang sangat potensial, kemudian dengan optimalisasi lapangan migas eksisting, dan juga dengan melakukan berbagai program efisiensi energi.

Di samping itu, Indonesia juga memiliki potensi di luar sumber daya fossil, seperti energi baru terbarukan (EBT), yang jumlahnya mencapai lebih dari 3.500 GW.

Kardaya Warnika: Reformasi Subsidi BBM Harus Utamakan Stok

“Ini adalah anugerah dari Tuhan, dimana Indonesia terletak di Khatulistiwa dan beriklim tropis, dengan potensi tenaga surya mencapai 3.200 GW, hidro 95 GW, angin 155 GW, dan lainnya,” imbuh Arifin.
Dengan potensi EBT yang sangat besar, lanjutnya, itu merupakan tantangan bagaimana bisa memanfaatkannya, sehingga akan menjadi peluang jika mampu mengelola potensi EBT tersebut. Selain itu, tantangan lain yang dihadapi adalah infrastruktur jaringan energi.

“Infrastruktur energi, ini adalah program pemerintah 3-4 dekade ke depan untuk bisa menyelesaikan infrastruktur jaringan listrik yang menghubungkan beberapa pulau besar sehingga bisa saling terkoneksi dengan memanfaatkan sumber-sumber energi baru terbarukan yang tersebar di Indonesia,” pungkasnya. (SA/SL)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...