Home ENERGI Pasar Tak Pedulikan Lagi Soal Serangan Rudal Ke Saudi, Harga Minyak Jeblok
ENERGI

Pasar Tak Pedulikan Lagi Soal Serangan Rudal Ke Saudi, Harga Minyak Jeblok

Share
Pasar Tak Pedulikan Lagi Soal Serangan Rudal Ke Saudi, Harga Minyak Jeblok
Share

New York, Situsenergi.com

Harga minyak ditutup lebih rendah pada perdagangan, Senin, mundur dari puncak sesi di atas USD70 per barel setelah serangan rudal terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi mengangkat harga ke level tertinggi untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 dimulai.

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, melesat setingginya USD71,38 per barel di awal perdagangan Asia, level tertinggi sejak 8 Januari 2020. Brent ditutup anjlok USD1,12 atau 1,6 persen  menjadi USD68,24 per barel, demikian dikutip dari laporan  Reuters, Senin (8/3/2021) atau Selasa (9/3/2021) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melorot USD1,04 atau 1,6 persen menjadi USD65,05 per barel. WTI sempat menyentuh USD67,98 per barel, level tertinggi sejak Oktober 2018. Meski demikian, harga Brent dan WTI tercatat tetap menguat selama empat sesi berturut-turut.

Sebagaimana diketahui, pasukan Houthi Yaman menembakkan  drone  dan rudal ke jantung industri minyak Saudi, Minggu, termasuk fasilitas Saudi Aramco di Ras Tanura yang penting untuk ekspor minyak mentah. Riyadh mengatakan tidak ada korban jiwa atau kehilangan harta benda.

“Situasinya menguap ketika menjadi jelas bahwa tidak ada kerusakan pada fasilitas minyak terbesar di dunia itu,” kata Bob Yawger, Direktur Mizuho.

Amerika Serikat menyatakan kekhawatirannya atas “ancaman keamanan” terhadap Arab Saudi dan mengatakan akan meningkatkan dukungan bagi pertahanan Saudi.

“Aktivitas tersebut layak mendapatkan beberapa peningkatan premi geopolitik,” kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.

Serangan itu menyusul langkah minggu lalu oleh Organisasi Negara Eksportir Minyak, Rusia dan sekutu produsen minyak lainnya, yang dikenal sebagai OPEC Plus, untuk menyetujui secara luas tetap berpegang teguh pada pemotongan output meski harga minyak mentah meningkat.

“Kesepakatan OPEC Plus pekan lalu untuk menahan produksi pada tingkat yang hampir sama seperti saat ini merupakan perkembangan utama yang belum sepenuhnya didiskusikan,” kata Ritterbusch. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...