Home ENERGI Wasekjen FSPPB : Lonjakan Biaya Energi Saat Ini Banyak Di Tanggung Pertamina
ENERGI

Wasekjen FSPPB : Lonjakan Biaya Energi Saat Ini Banyak Di Tanggung Pertamina

Share
FSPPB dorong reformasi tata kelola migas dan reintegrasi Pertamina di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik global.
Share

Jakarta, situsenergi.com

Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai menekan sektor energi nasional. Lonjakan harga minyak mentah global dan pelemahan rupiah dinilai memperbesar beban Indonesia sebagai negara net importir minyak.

Di tengah tekanan itu, Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) mendorong reformasi tata kelola migas sebagai solusi menghadapi risiko krisis energi yang makin kompleks.

Wasekjend I FSPPB Aryo Wibowo menilai lonjakan biaya energi nasional saat ini banyak ditanggung Pertamina. Menurutnya, beban menjaga pasokan aman dan harga energi tetap terjangkau justru bertumpu pada perusahaan, tanpa kompensasi tunai dari pemerintah.

FSPPB menilai kondisi tersebut berpotensi menekan kesehatan keuangan Pertamina jika tidak diimbangi kebijakan yang mendukung. Karena itu, organisasi pekerja migas itu mendesak pemerintah segera menghadirkan kebijakan pro-energi nasional, termasuk mempercepat pengesahan RUU Migas.

Selain reformasi regulasi, FSPPB juga menyoroti pentingnya reintegrasi bisnis Pertamina dari hulu hingga hilir. Langkah itu dinilai penting untuk memperkuat efisiensi dan memperkokoh ketahanan energi nasional saat menghadapi gejolak global.

Aryo menegaskan pemisahan bisnis migas justru berisiko memunculkan transaksi yang tidak efisien dan melemahkan daya tahan perusahaan.

Pandangan serupa datang dari Pakar Energi Komaidi Notonegoro. Ia menekankan peran strategis Pertamina yang selama ini menjaga distribusi energi hingga wilayah terpencil.

Menurut Komaidi, kenaikan harga minyak tidak hanya menekan fiskal negara, tetapi juga mendorong beban bergeser ke Pertamina. Jika dukungan regulasi dan kompensasi tidak diperkuat, risiko keberlanjutan perusahaan bisa menjadi persoalan serius.

Situasi ini membuat isu reformasi tata kelola migas kembali menguat. Di tengah tekanan geopolitik global, dorongan memperkuat Pertamina dinilai bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menyangkut ketahanan energi nasional. (DIN/GIT)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Kemenkeu-ESDM Kompak Gaspol! Purbaya dan Bahlil Siap Genjot PNBP hingga Listrik Desa

Jakarta, situsenergi.com Kementerian Keuangan dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)...

Elnusa Tancap Gas di Awal 2026, Angkut BBM Tembus 7 Juta KL

Jakarta, situsenergi.com PT Elnusa Tbk mencatat performa operasional positif sepanjang kuartal I...

Bahlil Rombak Struktur ESDM, 19 Pejabat Tinggi Langsung Dilantik

Jakarta, Situsenergi.com Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, merombak...

Prabowo Pasang Target Swasembada Energi 2029, Impor BBM Siap Dipangkas Lebih Cepat?

Jakarta, situsenergi.com Presiden RI Prabowo Subianto memasang target ambisius: swasembada energi nasional...