Home ENERGI Harga Minyak Melambung, Ini Sentimen Penyebabnya
ENERGI

Harga Minyak Melambung, Ini Sentimen Penyebabnya

Share
Share

Jakarta, situsenergy.com

Harga minyak bergerak lebih tinggi pada Kamis (14/5/2020) setelah Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan stok global lebih rendah pada semester kedua tahun 2020, meski kekhawatiran masih tetap menghantui bahwa lonjakan kedua infeksi virus corona dapat terjadi dalam beberapa bulan mendatang.

Harga minyak mentah melonjak dalam dua pekan terakhir karena beberapa negara melonggarkan pembatasan virus corona untuk memungkinkan pabrik dan toko dibuka kembali.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melambung US$1,94, atau 6,7%, menjadi US$31,13 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Kamis (14/5/2020) atau Jumat (15/5/2020) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), ditutup melesat US$2,27, atau 9%, menjadi US$27,56 per barel.

Pasar rebound dari pelemahan pada sesi Rabu yang dipicu proyeksi ekonomi yang suram dari Chairman Federal Reserve, Jerome Powell, yang memperingatkan ‘periode panjang’ pertumbuhan ekonomi yang lemah. Itu mengimbangi penurunan tak terduga dalam stok minyak mentah AS.

Klaim awal untuk tunjangan pengangguran Amerika yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir hingga 9 Mei mencapai 2,98 juta, tutur Departemen Tenaga Kerja, Kamis. Kendati angka itu menyusut dari 3,18 juta pada pekan sebelumnya dan menandai penurunan mingguan keenam beruntun, tetapi klaim tersebut tetap sangat tinggi.

“Permintaan bensin berkorelasi cukup baik dengan tingkat pekerjaan, dan sulit untuk melihat permintaan bensin kembali lebih besar ketimbang yang sudah ada,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC, New York.

Persediaan minyak mentah AS turun untuk pertama kalinya dalam 15 pekan, ungkap Badan Informasi Energi, Rabu, dengan penurunan stok minyak mentah AS dari 745.000 barel menjadi 531,5 juta barel dalam pekan hingga 8 Mei.

Kamis, IEA kembali memperkirakan rekor penurunan permintaan pada tahun ini, meski memangkas estimasi untuk musim gugur, mengutip langkah-langkah guna melonggarkan penguncian.
Seiring meningkatnya permintaan, IEA memperkirakan stok minyak mentah menyusut sekitar 5,5 juta barel per hari pada semester kedua.

“Kendati dinamika penawaran dan permintaan ini tentu saja mampu mendorong harga dalam waktu dekat, potensi tingkat rekor pasokan minyak mentah global akan tetap sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan,” kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.

Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), Rabu, memperkirakan permintaan minyak global 2020 menyusut 9,07 juta barel per hari, kontraksi yang lebih dalam dari estimasi sebelumnya, yakni 6,85 juta barel per hari.

OPEC memperkirakan kuartal kedua akan mencatatkan penurunan tertajam. Sebagai respons, Arab Saudi memperdalam pemotongan yang direncanakan untuk Juni, mengurangi produksi hampir 5 juta barel per hari.

“Saudi beralih dari penghancur pasar menjadi market maker lagi dan memimpin dengan memberi contoh telah mengirim pesan yang sangat mendukung,” kata Kilduff. (SNU/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PTBA dan PNRE Jajaki PLTS di Lahan Pascatambang

Jakarta, Situsenergi.com PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) bersama PT Pertamina New...

KII Gandeng OMS Italia, Industri Valve Nasional Siap Naik Kelas Lewat Alih Teknologi

Cikarang, situsenergi.com PT Katup Industri Indonesia (KII) memperkuat langkahnya di industri manufaktur...

Penyesuaian Regulasi Harga LNG Diperlukan Demi Jaga Daya Saing Industri Nasional

Jakarta, situsenergi.com Lonjakan harga LNG global menekan pasar energi dunia. Kerusakan fasilitas...

PTBA Tebar Dividen Jumbo Rp1,32 Triliun, Pemegang Saham Auto Cuan!

Jakarta, situsenergi.com PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) memutuskan membagikan dividen tunai...