Jakarta, Situsenergi.com
Industri Indonesia menghadapi tuntutan baru di pasar global: bukan hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga menekan jejak emisi dalam proses produksinya. Menjawab tantangan tersebut, PT PLN (Persero) memperkuat layanan listrik hijau melalui Renewable Energy Certificate (REC) dan Green Energy as a Service (GEAS).
Langkah ini bertujuan membantu perusahaan mengakses solusi energi terbarukan dengan kredibilitas dan keterlacakan yang terverifikasi. Dengan begitu, industri nasional memiliki dukungan untuk mengikuti standar dekarbonisasi internasional sekaligus menjaga daya saing produknya.
PLN mempertegas komitmen tersebut melalui Green Energy Partnership Forum 2026 di Jakarta pada 7 Oktober 2026. Forum ini melibatkan Climate Group melalui inisiatif RE100, World Resources Institute (WRI) Indonesia, Rumah PATEN, serta 59 korporasi yang memiliki perhatian terhadap pemanfaatan energi bersih.
PLN Tak Mau Listrik Hijau Sekadar Sertifikat
Direktur Retail dan Niaga PLN, M. Fahrur Rozy, menekankan pentingnya memastikan klaim penggunaan energi terbarukan memiliki dasar yang jelas. Karena itu, PLN memperkuat keterlacakan sumber energi dan kredibilitas layanan listrik hijau agar sesuai dengan standar audit internasional.
“Kita tidak ingin hanya menghasilkan selembar kertas atau sertifikat yang harus dibayar tapi tidak sesuai kredibilitas. PLN bertransformasi tidak hanya jualan listrik, tetapi menjadi digital platform para investor untuk mempertemukan buyer dan seller agar ekosistem terkelola dan lebih banyak investor masuk ke Indonesia,” tegas Rozy.
Melalui REC dan GEAS, PLN ingin menyediakan solusi bagi pelanggan industri yang membutuhkan dukungan energi hijau terverifikasi. Kolaborasi dengan lembaga independen juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kepercayaan terhadap klaim penggunaan energi terbarukan.

Potensi EBT RI Tembus 3.600 GW
Dukungan terhadap dekarbonisasi industri juga datang dari pemerintah. Direktur Energi Terbarukan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Toni Susandy, menyebut Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) lebih dari 3.600 gigawatt (GW).
Selain itu, porsi EBT mencapai 61% dalam rencana pembangkit listrik pada RUPTL 2025–2034. Potensi tersebut menjadi modal untuk mendukung kebutuhan energi bersih sektor industri.
“Transisi energi bukan semata-mata agenda lingkungan, tetapi bagian dari strategi ketahanan dan kemandirian energi nasional,” ujar Toni.
Ia menilai peningkatan permintaan energi terbarukan dari perusahaan dapat memberikan sinyal positif bagi pengembang proyek dan investor. Dengan demikian, dekarbonisasi tidak hanya menjadi biaya usaha, tetapi juga investasi strategis untuk mempertahankan daya saing dalam jangka panjang.
Permintaan Energi Hijau Jadi Kunci Investasi
Executive Chairperson Indonesia Energy Transition Implementation Joint Office (IETJO/Rumah PATEN), Edo Mahendra, mengapresiasi pendekatan PLN yang turut memperhatikan kebutuhan industri sebelum mengembangkan pasokan energi hijau.
Menurut Edo, kepastian permintaan, kejelasan skema, dan stabilitas menjadi faktor penting untuk menarik pendanaan ke sektor energi bersih.

Melalui penguatan REC dan GEAS, PLN berharap industri nasional semakin siap menghadapi tuntutan dekarbonisasi global. Upaya ini sekaligus mendukung ambisi Indonesia mengembangkan ekonomi hijau dan menarik lebih banyak investasi ke sektor energi terbarukan. (*)
Leave a comment