Home MIGAS Minyak Jelantah Disulap Jadi BBM Pesawat, Pertamina-BGN Gaspol Kejar Energi Hijau 2030
MIGAS

Minyak Jelantah Disulap Jadi BBM Pesawat, Pertamina-BGN Gaspol Kejar Energi Hijau 2030

Share
Minyak Jelantah Disulap Jadi BBM Pesawat, Pertamina-BGN Gaspol Kejar Energi Hijau 2030
Share

Jakarta, Situsenergi.com

PT Pertamina (Persero) menggandeng Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengubah minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Kolaborasi ini sekaligus membuka jalan baru bagi pengembangan energi rendah karbon berbasis limbah domestik.

Kerja sama tersebut ditandai melalui penandatanganan Nota Kesepahaman di Grha Pertamina, Jakarta, Kamis (7/5/2026). Program ini memanfaatkan minyak jelantah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang selama ini dianggap limbah dan berpotensi mencemari lingkungan.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana mengatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini melayani sekitar 61,99 juta penerima manfaat dan menjadi salah satu program makan bergizi terbesar di dunia.

“Program ini bukan hanya soal makan bergizi gratis, tetapi merupakan investasi besar untuk masa depan bangsa, membangun generasi unggul, memperkuat ekonomi rakyat, dan menciptakan Indonesia yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera,” ujar Dadan.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri menilai sinergi pangan dan energi menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan nasional. Menurutnya, minyak jelantah kini memiliki nilai ekonomi besar karena bisa menjadi sumber energi masa depan.

“Dari puluhan ribu SPPG di seluruh Indonesia, akan terbentuk ekosistem pengumpulan Used Cooking Oil yang sebelumnya dianggap limbah. Hari ini, kita jadikan limbah sebagai sumber daya,” kata Simon.

Program pengumpulan minyak jelantah bakal dijalankan Pertamina Patra Niaga melalui mesin UCollect. Selanjutnya, minyak jelantah akan diolah menjadi bahan baku SAF, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), hingga biogasoline.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono mengatakan UCO atau minyak jelantah menjadi bahan baku paling efisien untuk mendukung bisnis rendah karbon.

“Pertamina menargetkan pencampuran SAF mulai dari 1% hingga 5% pada 2030 sesuai amanat pemerintah,” ujar Agung.

Kolaborasi Pertamina dan BGN juga mendukung tiga agenda strategis nasional, yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi industri berbasis ekonomi sirkular. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sumur Tua Pertamina Bikin Kejutan, Produksi Minyak BNG-039 Tembus 266% Target

Jakarta, Situsenergi.com Sumur lama milik PT Pertamina EP (PEP) Zona 4 kembali...

Panas Bumi Kamojang Bikin Limbah Jadi Panen, Petani Hemat Rp82 Juta

Kamojang, Situsenergi.com Panas bumi di lereng Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kini...

Jembatan Kaluppini Pulih, 5.000 Warga Enrekang Kembali Terhubung

Enrekang, Situsenergi.com Ada satu jembatan yang punya arti besar bagi ribuan warga...

PGTC 2026 Pecah! UI Juara Debat, Unesa Bawa Pulang Gelar EIC

Jakarta, Situsenergi.com Kompetisi mahasiswa dalam rangkaian Pertamina Goes to Campus (PGTC) 2026...