Home OPINI Nozzle Tenang, Negara Menahan Napas
OPINI

Nozzle Tenang, Negara Menahan Napas

Share
Nozzle Tenang, Negara Menahan Napas
Share

Oleh : Andi N Sommeng

Di SPBU, semuanya berjalan normal.
Motor antre. Mobil antre. Dompet juga antre, menunggu akhir bulan. Angka di dispenser tetap.Tidak naik.
Sementara di luar sana, dunia seperti kompor gas yang knop-nya diputar maksimal. Di Selat Hormuz, kapal-kapal minyak mendadak jadi selebritas: dipantau, dikejar, ditahan, dan mungkin… disindir.

Perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran bukan cuma perang senjata. Ini perang harga.
Dan biasanya, yang kalah bukan tentara, tapi konsumen.
Harga minyak dunia naik. Grafiknya tidak lagi naik, tapi meloncat seperti anak kecil lihat diskon. Negara-negara lain mulai panik:

  • ada yang naikkan harga BBM,
  • ada yang turunkan pajak,
  • ada yang pura-pura tenang sambil diam-diam hitung defisit. Lalu Indonesia:?
  • Tenang.
  • Terlalu tenang malah.
    Harga BBM tidak naik. Seolah-olah kita berkata ke dunia:
    “Silakan ribut, kami lagi puasa harga.”
    Di sinilah negara menunjukkan kelasnya:
  • bukan menaikkan harga,
  • tapi menahan harga sambil menahan napas.
    Secara akademis, ini disebut price smoothing.
    Secara rakyat, ini disebut:
    “Alhamdulillah… belum naik.”
    Tapi jangan salah.
    Ini bukan berarti murah. Ini berarti, belum ditagih.
    Karena dalam ekonomi energi, hukum paling jujur adalah: kalau bukan sekarang, ya nanti.
    Bayangkan negara seperti orang tua di warung: anaknya mau beli es krim mahal, harga lagi naik, tapi si orang tua bilang:
    “Sudah, sini… bapak bayar dulu.”
    Anaknya senang.
    Rakyat tersenyum.
    Dan pemerintah, sambil menepuk meja fiskal, berkata pelan:
    “Tenang… sampai akhir tahun ini masih aman.”
    Kalimat yang menenangkan, seperti payung di musim hujan.
    Dipakai hari ini, tapi semua tahu: hujannya belum tentu berhenti.

BBM di Indonesia memang unik. Ia bukan sekadar komoditas. Ia adalah makhluk sosial.
Kalau naik, bisa demo. Kalau turun, bisa kampanye.
Kalau tidak berubah… bisa jadi bahan esai ini.
Maka pemerintah memilih opsi paling aman: tidak mengganggu suasana.
Karena dalam politik, kadang stabil itu lebih penting daripada benar. Padahal, di balik ketenangan ini, ada drama yang tidak kelihatan.
Selama kita masih impor, selama minyak masih lewat Hormuz, selama rupiah masih sensitif, maka setiap konflik di Timur Tengah sebenarnya juga konflik di kantong kita.
Hanya saja, negara bilang:
“Tenang… saya buffering dulu.”

Ini seperti nonton film streaming. Internet lagi lambat, videonya berhenti, lalu muncul tulisan:
“Buffering…”
Nah, harga BBM kita hari ini sedang buffering. Bukan tidak naik, tapi belum diputar. Bedanya, buffering ini dibiayai APBN.
Dan selama kas masih cukup, layarnya tetap jalan. Dan kita, rakyat, menikmati jeda ini. Isi bensin tetap sama, uang keluar tetap segitu, dan kita pulang dengan perasaan:
“Indonesia aman.”
Padahal sebenarnya bukan aman, hanya ditenangkan dengan anggaran.
Di ujung cerita, kita harus jujur sedikit.
Keputusan ini pintar, menahan inflasi, menjaga daya beli, menghindari kepanikan.
Dan untuk saat ini, negara tampaknya masih punya cukup napas
untuk bertahan sampai akhir tahun. Tapi juga berisiko, karena setiap hari ditunda, biaya makin menumpuk.
Seperti tagihan kartu kredit: tidak terasa saat swipe, terasa saat statement datang.
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?
Sederhana.

  • Di SPBU: harga diam.
  • Di dunia: harga teriak.
  • Di negara: fiskal bilang, “masih kuat… untuk sekarang.”

Dan kita semua, sepakat untuk pura-pura tidak mendengar yang berisik itu.
Untuk sementara.
Karena pada akhirnya,
nozzle boleh tenang,
dunia tetap bergolak,
dan negara,
dengan gaya santainya, sedang memainkan seni paling sulit dalam ekonomi: menunda kenyataan, sambil memastikan rakyat tetap tertawa.[•]

|A||N||S|
Dosen-GBUI
Buittenzorg,
6April2026

Verba volant, scripta manent

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Puskepi: Poltical Will Presiden Harus Bisa Mewujudkan Ketahanan dan Kedaulatan Energi Nasional

Jakarta, situsenergi.com Pengamat kebijakan energi yang juga Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik...

Akhirnya Political Will Elektrifikasi itu Datang?

Oleh: Defiyan CoriEkonom Konstitusi Indonesia memasuki tahapan (fase) yang tidak mudah sejak...

Negeri Setengah Fakta Ketika Statistik, Buzzer, dan Media Mendorong Narasi

Oleh : Andi N Sommeng Di zaman banjir informasi, kebohongan sering tidak...

Ketika Dunia Membuka Tangki Terakhir

Oleh : Andi N Sommeng Lonjakan harga minyak dunia kembali memaksa negara-negara...