Home OPINI Opini SZ : Terang Yang Diperjuangkan Dengan Semangat Pengabdian
OPINI

Opini SZ : Terang Yang Diperjuangkan Dengan Semangat Pengabdian

Share
Harga Pertamax Malaysia Gak Bisa Dibandingkan 'Aple to Aple' Dengan RI, Jelas Gak Nyambung
Direktur Pusat Kebijakan Publik (PUSKEPI), Sofyano Zakaria
Share

Lebih dari satu bulan sudah perjuangan luar biasa dilakukan oleh tim PLN di lapangan untuk memulihkan kelistrikan di Aceh.
Ini bukan sekadar cerita tentang perbaikan jaringan listrik, tetapi tentang pengabdian, ketulusan, dan tanggung jawab kebangsaan yang dijalankan dengan sepenuh hati.

Dari sekitar 6.500 desa di Aceh yang terdampak Bencana Alam, hari ini tersisa 75 desa yang masih belum menikmati listrik. Angka ini menunjukkan betapa besar kerja keras yang telah dilakukan. Namun yang perlu dipahami publik, desa-desa yang tersisa bukanlah desa biasa. Lokasinya berada di titik terdalam, paling sulit dijangkau, dan sangat terisolir.
Justru di titik inilah ujian sesungguhnya dari sebuah pengabdian sedang berlangsung.

Sebagai pengamat kebijakan energi, saya sangat memahami bahwa perjuangan PLN di Aceh tidak bisa dinilai hanya dari cepat atau lambatnya listrik menyala. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana proses itu dijalani.
Para petugas PLN bekerja di medan ekstrem, melewati hutan, sungai, jalan rusak, dan wilayah tanpa akses kendaraan. Banyak peralatan harus dipikul dengan tenaga manusia. Ini adalah kerja fisik, kerja mental, dan kerja hati.

Para petugas ini sejatinya bukanlah mesin. Mereka manusia biasa yang memiliki keluarga, anak, dan orang tua di rumah. Namun selama lebih dari sebulan, mereka meninggalkan kenyamanan demi masyarakat yang bahkan mungkin tidak mereka kenal secara pribadi. Dalam keterbatasan fasilitas, cuaca yang tidak menentu, dan risiko keselamatan yang tinggi, mereka tetap bertahan. Inilah yang saya nilai sebagai bentuk “pengabdian” yang sesungguhnya.

Listrik sering kali dianggap hal yang biasa. Namun ketika listrik padam, barulah kita menyadari betapa pentingnya peran energi dalam kehidupan.
Tanpa listrik, anak-anak kesulitan belajar di malam hari, pelayanan kesehatan terganggu, ekonomi rakyat terhenti, dan rasa aman pun terasa berkurang.
Oleh karena itu, upaya PLN memulihkan kelistrikan di Aceh sejatinya adalah upaya mengembalikan kehidupan masyarakat agar kembali normal.

Ketika kini hanya tersisa 75 desa, tantangan justru semakin berat. Tetapi PLN tidak berhenti. Terbukti tidak ada kata menyerah.
Prinsip bahwa negara harus hadir hingga ke pelosok negeri benar-benar dijalankan.
Tidak ada desa yang ditinggalkan, tidak ada masyarakat yang dianggap terlalu jauh atau terlalu sulit untuk dilayani.

Dalam konteks kebijakan energi nasional, apa yang dilakukan PLN di Aceh mencerminkan wajah BUMN yang sejati. Bukan hanya mengejar angka, target, atau laporan, tetapi menjalankan tugas kemanusiaan dan kebangsaan.
BUMN PLN menunjukkan bahwa energi bukan semata-mata soal bisnis, tetapi soal keadilan sosial dan keberpihakan kepada rakyat.

Saya meyakini, perjuangan ini lahir dari panggilan jiwa. Karena tidak mungkin seseorang bertahan di medan seberat itu jika hanya digerakkan oleh kewajiban administratif. Yang menggerakkan mereka adalah rasa tanggung jawab, rasa empati, dan semangat melayani negeri.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita, masyarakat, memberikan apresiasi kepada BUMN , PLN dan seluruh petugas di lapangan. Apresiasi bukan berarti menutup mata dari kekurangan, tetapi memberikan penghormatan yang layak atas kerja keras dan pengorbanan yang nyata. Dukungan moral dari publik sangat penting bagi mereka yang masih berjuang di titik-titik terakhir.

Saya berharap, dalam waktu tidak lama lagi, seluruh desa di Aceh dapat kembali menikmati terang. Dan lebih dari itu, saya berharap semangat pengabdian yang ditunjukkan PLN di Aceh ini menjadi contoh bahwa negara benar-benar hadir untuk rakyatnya, hingga ke ujung negeri.

Perjuangan ini mengajarkan kita bahwa terang tidak selalu datang dengan mudah. Terkadang ia harus diperjuangkan dengan keringat, keberanian, dan ketulusan. Dan hari ini, PLN telah menunjukkan bahwa terang itu diperjuangkan bukan hanya dengan kabel dan tiang listrik, tetapi dengan hati dan pengabdian.[•]

*Sofyano Zakaria-Pengamat Kebijakan Energi.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

OPINI SZ: Apresiasi Tinggi Untuk Mereka Yang Berbuat Demi Kemanusiaan Pada Bencana Alam

Bencana banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Aceh, Sumatera Barat, dan...

OPINI SZ : Maduro Ditangkap Amerika: Bagaimana dengan Harga Minyak, dan Ujian Kepentingan Indonesia

Penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat bukan sekadar peristiwa hukum atau diplomatik.Ia...

OPINI SZ : Mengantar Energi-Mempertaruhkan Resiko Demi Menjaga Denyut Bangsa

Setiap hari kita menyalakan motor, mengisi bensin, lalu melaju tanpa berpikir panjang....

OPINI SZ : Stop Impor Solar- Jangan Gagah di Judul, Tapi Bocor di APBN

Saya termasuk yang mendukung penuh rencana Stop Impor Solar. Dukungan ini bukan...