Jakarta, situsenergi.com
Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolin Wahjong menegaskan, sektor hulu migas masih sangat strategis.
“Kita harus menghentikan penurunan produksi dan meningkatkan produksi selama era transisi energi sambil menargetkan net zero pada 2060,” ujarnya di Jakarta, Senin (15/12/2025).
Marjolin menyoroti permintaan energi nasional yang terus meningkat, sementara produksi migas justru menurun. Ia menilai kepastian regulasi dan iklim investasi yang kondusif menjadi kunci. “Jika tidak direspons kebijakan pro-investasi, kesenjangan pasokan energi bisa melebar,” katanya.
Tenaga Ahli Kepala SKK Migas Muhammad Kemal mengatakan optimalisasi lifting migas penting untuk menekan impor dan menjaga pasokan energi. “Penguatan produksi domestik menjadi langkah krusial agar Indonesia tidak rentan terhadap gejolak eksternal,” jelasnya.
Sementara itu, Manager New and Renewable Energy Pertamina NRE Chandra Asmara menilai gas alam masih berperan sebagai energi transisi. “Emisi pembangkit gas bisa 50–70 persen lebih rendah dibandingkan batu bara, sekaligus menjaga keandalan listrik,” ujarnya.

Pemerintah juga menegaskan komitmen mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Mewakili Ditjen EBTKE, M. Wahyu Jasa Diputra menyebut EBT penting bagi ketahanan energi jangka panjang. “Optimalisasi potensi EBT krusial untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil,” katanya. (DIN/GIT)
Leave a comment