Home MIGAS KSP: Perubahan Skema Subsidi Energi Disesuaikan dengan Kondisi Ekonomi
MIGAS

KSP: Perubahan Skema Subsidi Energi Disesuaikan dengan Kondisi Ekonomi

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Kepastian tentang perubahan skema subsidi energi akan disesuaikan dengan kondisi perekonomian terkini, serta kesiapan dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Hal ini disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (25/5/2022).

“Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk melakukan transformasi skema subsidi dari subsidi terhadap barang atau terbuka, menjadi subsidi terhadap orang atau sistem tertutup. Ini prnting agar subsidi lebih tetap sasaran, hanya mereka yang miskin atau rentan miskin yang menikmati,” papar Edy.

Ia mengatakan, dengan skema subsidi terbuka seperti saat ini, terdapat kekhawatiran volume pemberian subsidi menjadi tidak terbatas. Pasalnya, masyarakat yang seharusnya tidak termasuk kategori penerima subsidi, justru ikut menikmati subsidi tersebut.

“Dalam transformasi skema subsidi energi, pemerintah akan menjaring masyarakat yang berhak mendapat subsidi agar fluktuasi harga komoditas energi tidak mengganggu daya beli masyarakat,” ujarnya.

“Sebenarnya disadari bahwa subsidi energi, khususnya LPG, banyak yang kurang tepat sasaran, karena banyak dinikmati oleh kelas menengah atas,” lanjut Edy.

Ia juga mengungkapkan, bahwa Pemerintah tetap mempertahankan subsidi BBM khususnya jenis Pertalite dan LPG ukuran tiga kilogram untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga-harga komoditas yang disebabkan ketidakpastian global.

“Pemerintah sebenarnya bisa saja mencabut subsidi dan melepas BBM jenis Pertalite serta LPG tiga kilogram dengan harga keekonomian demi menjaga stabilitas APBN. Namun, opsi tersebut tidak dipilih, dan pemerintah justru menambah anggaran belanja untuk subsidi energi,” papar Edy.

“Pemerintah juga telah mendapat persetujuan dari DPR RI untuk menambah alokasi dan kompensasi subsidi energi pada 2022 yakni Rp 71,8 triliun untuk subsidi BBM dan LPG, dan Rp 3,1 triliun untuk subsidi listrik,” sambungnya.

Lebih jauh ia menambahkan, hingga April 2022 pemerintah mencatat subsidi untuk BBM dan LPG meningkat hingga 50 persen menjadi Rp 34,8 triliun, dibandingkan periode yang sama pada 2021 yakni Rp 23,3 triliun.

“Kenaikan belanja subsidi BBM dan LPG tersebut, kata Edy, merupakan dampak dari kenaikan harga minyak dan gas di pasar global. Kita masih banyak mengimpor migas, sehingga ketika harga beli naik dan kita ingin mempertahankan harga, subsidi harus naik,” tutup Edy.(ERT/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Blok Rokan Terguncang Awal 2026, ESDM Turun Tangan Kejar Produksi Migas

Jakarta, situsenergi.com Awal 2026 menjadi momen krusial bagi industri migas nasional. Gangguan...

UMKM Naik Kelas Lewat Pertamina SMEXPO, Ini Skema Pendampingannya

Jakarta, situsenergi.com Jumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia...

Awal 2026, Elnusa Gandakan Teknologi Velocity String di PHR Zona 4

Jakarta, situsenergi.com PT Elnusa Tbk langsung tancap gas di awal 2026. Perusahaan...

PGE Borong 3 Penghargaan Dunia di IPITEx 2026, Inovasi Geoflowtest Jadi Game Changer Panas Bumi

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) kembali mencuri perhatian dunia....