Home MIGAS Harga Minyak Merosot Lebih Dari 2 Persen, Brent Kini USD84,58 per barel
MIGAS

Harga Minyak Merosot Lebih Dari 2 Persen, Brent Kini USD84,58 per barel

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak merosot lebih dari dua persen, Rabu, terimbas kabar yang menyebutkan stok minyak mentah Amerika melesat lebih dari ekspektasi. 

Minyak berjangka Brent, patokan internasional, ditutup anjlok USD1,82 atau 2,1 persen menjadi USD84,58 per barel, setelah menyentuh pada level tertinggi tujuh tahun pada sesi Selasa. Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), meeosot USD1,99 atau 2,4 persen, menjadi USD82,66 per barel, demikian laporan  Reuters,  di New York, Rabu (27/10/2021) atau Kamis (28/10/2021) pagi WIB.

Kenaikan yang lebih besar dari perkiraan dalam stok minyak mentah Amerika memberi beberapa investor dorongan untuk memangkas  long position setelah kenaikan kuat dalam beberapa pekan terakhir membawa Brent dan WTI ke level tertinggi multi-tahun.

“Kita mengalami kemunduran yang wajar dalam aksi ambil untung lebih dari apapun, tetapi masih USD80 untuk (WTI) adalah angka yang kuat,” kata Gary Cunningham, Direktur Tradition Energy.

Kedua tolok ukur itu ditutup pada Jumat dengan kenaikan mingguan ketujuh berturut-turut karena produsen utama menahan pasokan dan permintaan rebound setelah pelonggaran pembatasan pandemi.

Persediaan minyak mentah naik 4,3 juta barel pekan lalu, menurut Departemen Energi Amerika, lebih dari perkiraan peningkatan 1,9 juta barel. Stok bensin susut 2 juta barel, menurunkannya ke level yang tidak terlihat dalam hampir empat tahun, ketika konsumen Amerika bergulat dengan kenaikan harga untuk mengisi tangki kendaraan mereka.

Penyimpanan di pusat pengiriman WTI di Cushing, Oklahoma, lebih terkuras daripada titik mana pun dalam tiga tahun terakhir, dengan harga untuk kontrak berjangka yang lebih lama menunjukkan pasokan bertahan di level tersebut selama berbulan-bulan.

Minyak menguat akhir-akhir ini didorong ekspektasi bahwa sejumlah negara seperti China dan India akan menanggapi kekurangan batu bara dan gas alam dengan beralih ke produk turunan minyak mentah bagi pembangkit listrik dan mesin pemanas. Permintaan tersebut dapat meningkatkan konsumsi minyak mentah secara keseluruhan lebih dari setengah juta barel minyak per hari.

Namun, Cunningham mengatakan bahwa ekspektasi tersebut mungkin berlebihan, tergantung pada kondisi ekonomi global.

“Terjadi reli di gas alam sehingga ada banyak kekhawatiran tentang aset terkait dengan produksi listrik yang dialihkan kembali ke pembangkit berbasis minyak – itu adalah bagian besar dari reli tersebut dan sekarang beberapa di antaranya sedikit mereda,” kata dia. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Menata Ulang Subsidi BBM untuk Pemerataan Akses Energi Nasional

Oleh : Dina Nurul FitriaAnggota Dewan Energi Nasional Unsur Konsumen 2020–2025 Subsidi...

Pasar Murah Pertamina Dimulai dari Tuban, Paket Sembako Rp211 Ribu Dijual Rp30 Ribu

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) menggelar program pasar murah untuk membantu masyarakat...

IRESS Desak Kejagung Kejar Dugaan Kerugian Pada AP BUMN Rp451 Miliar Terkait Perusahaan Samin Tan

Jakarta, situsenergi.com Penetapan Samin Tan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam kasus...

PGE Borong PROPER Emas, Kamojang 15 Kali Beruntun dan Ulubelu Kian Bersinar

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) kembali mencetak prestasi dengan...