Home MIGAS Harga Minyak Melemah Usai OPEC+ Putuskan Pengurangan Pemangkasan Pasokan
MIGAS

Harga Minyak Melemah Usai OPEC+ Putuskan Pengurangan Pemangkasan Pasokan

Share
Harga Minyak Melemah Usai OPEC+ Putuskan Pengurangan Pemangkasan Pasokan
Share

Singapura, Situsenergi.com

Harga minyak melemah di awal perdagangan Asia, Senin, paska negara-negara penghasil minyak dan Rusia atau biasa disebut OPEC + sepakat untuk secara bertahap mengurangi pemotongan produksinya antara Mei dan Juli.

Minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman Juni, patokan internasional, turun 21 sen, atau 0,32 persen menjadi USD64,65 per barel pada pukul 07.27 WIB, demikian dikutip dari laporan  Reuters,  di Singapura, Senin (5/4/2021).

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman Mei, melemah 22 sen atau 0,36 persen ke posisi USD61,23 per barel.

Kedua kontrak ditutup melonjak lebih dari USD2 per barel setelah keputusan OPEC Plus dan optimisme tentang permintaan energi setelah Presiden Joe Biden menguraikan rencana pengeluaran infrastruktur USD2 triliun.

Organisasi Negara Eksportir Minyak, Rusia dan sekutunya, kelompok yang dikenal sebagai OPEC Plus, setuju untuk mengurangi pembatasan produksi sebesar 350.000 barel per hari (bph) pada Mei, 350.000 bph lagi pada Juni dan lebih lanjut 400.000 bph atau lebih di Juli.

Keputusan itu diambil setelah pemerintahan baru Amerika meminta Arab Saudi untuk menjaga energi tetap terjangkau bagi konsumen meski ada kekhawatiran permintaan karena beberapa bagian Eropa tetap terkunci, sementara Jepang dapat memperluas tindakan darurat sesuai kebutuhan untuk menahan gelombang baru infeksi virus corona.

Di bawah kesepakatan Kamis, pemotongan OPEC Plus akan sedikit di atas 6,5 juta bph dari Mei, dibandingkan sedikit di bawah 7 juta bph pada April.

Sebagian besar peningkatan pasokan akan datang dari eksportir utama dunia, Arab Saudi, yang mengatakan akan menghentikan secara bertahap pemotongan ekstra sukarela pada Juli, sebuah langkah yang akan menambah 1 juta bph.

Minggu ini, investor fokus pada pembicaraan tidak langsung di Wina antara Iran dan Amerika Serikat sebagai bagian dari negosiasi yang lebih luas untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan global.

Menjelang perundingan itu, Kementerian Luar Negeri Iran menginginkan Amerika Serikat mencabut semua sanksi dan menolak pelonggaran pembatasan “selangkah demi selangkah”.

Analis Eurasia Henry Rome memperkirakan sanksi Amerika, termasuk pembatasan penjualan minyak Iran, akan dicabut hanya setelah pembicaraan ini selesai dan sampai Teheran kembali patuh.

“Diplomasi dapat berlangsung selama berbulan-bulan dan kepatuhan nuklir dapat memakan waktu selama tiga bulan,” katanya dalam sebuah catatan, menambahkan bahwa implementasi kesepakatan itu dan peningkatan ekspor minyak dapat berlangsung hingga awal 2022. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PGN Perkuat Ketahanan Bisnis, Optimalkan Infrastruktur Gas untuk Dongkrak Pertumbuhan

Jakarta, Situsenergi.com PT Perusahaan Gas Negara (PGN) terus memperkuat fondasi bisnis dengan...

PHR Bongkar Kinerja 2025! Produksi Migas Tembus 157 Ribu BOEPD, Laba Nyaris USD 900 Juta

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memamerkan sederet capaian penting sepanjang...

Sumur GNK-PD28 Lampaui Target, Pertamina Drilling Catat Produksi hingga 2.184 Barel per Hari

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) mencatat capaian baru melalui...

Produksi Migas PHI Lampaui Target RKAP 2025, Catat Rekor Tertinggi dalam Lima Tahun

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) mencatat kinerja produksi minyak dan...