Home ENERGI Pasar Fokus ke Janji Saudi Pangkas Produksi, Minyak Tembus Level Tertinggi 11 Bulan
ENERGI

Pasar Fokus ke Janji Saudi Pangkas Produksi, Minyak Tembus Level Tertinggi 11 Bulan

Share
Share

New York, Situsenergy.com

Harga minyak menguat, Kamis, menembus level tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Penguatan itu dipicu pasar yang tetap fokus pada janji Arab Saudi untuk meningkatkan pemotongan output dan kenaikan ekuitas, mengabaikan gejolak politik di Amerika Serikat.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 8 sen menjadi USD54,38 per barel setelah menyentuh USD54,90 per barel, tingkat tertinggi yang tidak terlihat sejak sebelum penguncian Covid-19 pertama di Barat, demikian dikutip dari laporan  Reuters,  di New York, Kamis (7/1/2021) atau Jumat (8/1/2021) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), bertambah 20 sen menjadi USD50,83 per barel, setelah mencapai sesi tertinggi di USD51,28 per barel.

Rabu, harga minyak mentah berjangka turun sebentar ketika pendukung Presiden Donald Trump menyerbu Capitol Amerika, setelah dia mendesak mereka untuk memprotes sertifikasi Kongres atas kekalahannya dalam pilpres.

Pekan ini, harga minyak didukung janji Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, untuk memangkas produksi dengan tambahan 1 juta barel per hari (bph) pada Februari dan Maret.

“Bulan depan,  bull market  ini dapat kembali ke level yang lebih tinggi terutama dengan keuntungan dari pengurangan produksi sukarela yang dilakukan Arab Saudi sebesar 1 juta bph,” kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.

Tujuh kargo minyak mentah Laut Utara dibeli dan dijual di jendela perdagangan yang dioperasikan oleh Platts, Kamis, jumlah rekor yang menurut sumber perdagangan mungkin mencerminkan pasokan yang lebih ketat setelah pemotongan yang mengejutkan tersebut.

“Arab Saudi sangat memahami hubungan antara harga minyak dan tingkat persediaan global. Persediaan yang lebih rendah sama dengan harga yang lebih tinggi,” kata Kepala Analis Komoditas SEB, Bjarne Schieldrop.

Ekuitas global bergerak lebih tinggi karena investor meyakini Presiden terpilih Amerika, Joe Biden, akan mendapatkan sokongan untuk menggelontorkan anggaran lebih besar menyusul kemenangan dua kandidat Partai Demokrat dalam pemilihan Senat di Georgia, yang memberikan partai tersebut kendali atas kedua kamar di Kongres AS.

“Langkah-langkah stimulus yang diprediksi di bawah pemerintahan Biden yang kemungkinan akan mencakup investasi infrastruktur yang signifikan merupakan pertimbangan pendukung yang mampu meningkatkan permintaan bensin dan solar,” kata Ritterbusch. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...