Home ENERGI TERBARUKAN Terkait Target Bauran EBT 23 Persen, Pemerintah Dukung Ide Mahasiswa
ENERGI TERBARUKAN

Terkait Target Bauran EBT 23 Persen, Pemerintah Dukung Ide Mahasiswa

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Pemerintah berkomitmen akan mendukung ide dan inovasi para mahasiswa terkait pencapaian target bauran energi baru terbarukan 23 persen bauran energi baru terbarukan pada 2025.

Menurut Koordinator Komunikasi dan Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM Ariana Soemanto, tepat sebulan lalu, pemerintah telah meluncurkan Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya (Gerilya).

“Ini merupakan studi independen yang disiapkan oleh Kementerian ESDM untuk diimplementasikan pada Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kementerian Ristek,” kata Ariana dalam keterangannya di Jakarta, Senin. (27/9/2031)

Ia menjelaskan, bahwa Program Gerilya bertujuan menyiapkan mahasiswa sebagai aktivis energi bersih melalui pembekalan dan pemberian pengalaman yang diperuntukkan bagi mahasiswa eksakta yang ingin mendapatkan 10 hingga 20 SKS dalam satu semester dengan mengikuti tiga kursus dan tiga bulan team-based project.

Lebih jauh ia mengatakan, bahwa Pemerintah melalui Kementerian ESDM melibatkan generasi muda dalam upaya mencapai target bauran energi baru terbarukan.

“Pemerintah membutuhkan peran generasi muda untuk mengakselerasi pencapaian 23 persen bauran energi baru terbarukan pada 2025,” ujarnya

Ariana menambahkan, saat ini pemerintah memiliki beberapa langkah strategis dalam upaya mencapai netralitas karbon, di antaranya pengembangan pembangkit listrik energi baru terbarukan, termasuk implementasi peraturan presiden terkait harga listrik dari pembangkit hijau dan pengembangan co-firing biomassa untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Selain itu untuk PLTU yang telah habis masa kontraknya tidak akan lagi dilakukan perpanjangan kontrak. Pemerintah juga melakukan percepatan implementasi kendaraan listrik dan perluasan pemanfaatan kompor listrik,” paparnya.

Daya konsumsi masyarakat lebih tinggi dibandingkan produksi minyak dalam negeri. Namun, produksi gas justru lebih tinggi ketimbang konsumsi yang membuat Indonesia termasuk salah satu negara pengekspor gas dunia.

“Perbandingan antara supply dan demand gas sudah sangat menguntungkan karena daya produksi lebih tinggi daripada daya konsumsi masyarakat. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor gas,” pungkas Ariana.(Ert/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Keseimbangan Migas dan EBT Dinilai Penting Jaga Ketahanan Energi 2026

Jakarta, situsenergi.com Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolin Wahjong menegaskan, sektor...

Indonesia ‘Digeruduk’ Mobil Listrik, TÜV Rheinland Soroti Tantangan Keselamatan

Jakarta, situsenergi.com Pertumbuhan kendaraan listrik (EV) di Indonesia melaju kencang, bahkan sudah...

Indonesia ‘Digeruduk’ Mobil Listrik, TÜV Rheinland Soroti Tantangan Keselamatan

Jakarta, hotfokus.com Pertumbuhan kendaraan listrik (EV) di Indonesia melaju kencang, bahkan sudah...

Chery Siapkan Investasi Rp5,25 Triliun untuk Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia

Jakarta, situsenergi.com Produsen otomotif asal Tiongkok, Chery, siap menggelontorkan investasi senilai Rp5,25...