Home OPINI OPINI SZ : Mengantar Energi-Mempertaruhkan Resiko Demi Menjaga Denyut Bangsa
OPINI

OPINI SZ : Mengantar Energi-Mempertaruhkan Resiko Demi Menjaga Denyut Bangsa

Share
OPINI SZ : Mengantar Energi-Mempertaruhkan Resiko Demi Menjaga Denyut Bangsa
Share

Setiap hari kita menyalakan motor, mengisi bensin, lalu melaju tanpa berpikir panjang. Setiap pagi dan sore, kita menyalakan kompor elpiji, memasak untuk keluarga, dan menjalani hidup seperti biasa. Semua terasa normal, wajar, bahkan seolah otomatis. Namun di balik rutinitas sederhana itu, ada kerja panjang, kerja berat, dan kerja berisiko tinggi yang nyaris tak pernah kita lihat dan jarang kita hargai.
Kerja itu dijalani oleh insan-insan PT Pertamina Patra Niaga.

Indonesia bukan negara kecil. Lebih dari 17 ribu pulau terbentang, dengan kondisi geografis yang ekstrem dan infrastruktur yang belum merata.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia telah melampaui 150 juta unit, sementara pengguna elpiji mencapai puluhan juta rumah tangga. Semua kebutuhan energi itu harus dipenuhi setiap hari, tanpa jeda, tanpa alasan, tanpa toleransi kegagalan.

Di sinilah beban Patra Niaga berada. Mereka bertanggung jawab menyalurkan BBM dan elpiji ke lebih dari ribuan SPBU, agen, dan pangkalan yang tersebar dari pusat kota hingga wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal. Dari jalan tol modern hingga jalan tanah berlumpur. Dari pelabuhan besar hingga dermaga kayu yang hanya bisa disinggahi perahu kecil.
Distribusi energi di negeri ini bukan sekadar soal logistik. Ini adalah soal keberanian.

Ada pekerja Patra Niaga yang harus menembus ganasnya laut, berjam-jam di atas kapal kecil dengan muatan berbahaya, menghadapi ombak tinggi dan cuaca yang bisa berubah dalam hitungan menit. Ada yang menyusuri sungai sempit dengan arus deras, membawa BBM yang sedikit saja bocor bisa memicu bencana. Ada yang mengemudi truk tangki di jalur pegunungan terjal, tanpa pagar pengaman, dengan jurang menganga di sisi jalan.
Ini bukan cerita dramatis untuk mencari simpati. Ini adalah kenyataan lapangan.

Tak sedikit dari mereka yang bekerja di malam hari, saat orang lain beristirahat. Tak jarang mereka tetap bertugas di tengah banjir, gempa, dan longsor, demi memastikan pasokan energi tidak terputus. Bahkan di saat manusia lain berkumpul dengan keluarga sanak saudara, merayakan hari besar keagamaan yang sakral, mereka tetap ada dimana mana tetap bersiaga walau terpisah dari orang tua, istri dan anak.
Dalam banyak kasus bencana nasional, justru Patra Niaga menjadi salah satu garda terdepan yang memastikan BBM dan elpiji tetap tersedia bagi masyarakat dan layanan darurat.

Namun ironisnya, semua keberhasilan ini sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Ketika distribusi lancar, ketika SPBU beroperasi normal, ketika elpiji tersedia di pangkalan, nyaris tak ada yang berbicara. Seolah-olah semua itu terjadi dengan sendirinya, tanpa pengorbanan, tanpa risiko, tanpa manusia yang bekerja di belakangnya.

Sebaliknya, ketika muncul masalah kecil—antrean panjang akibat lonjakan permintaan, keterlambatan karena cuaca ekstrem, atau gangguan distribusi di satu titik—reaksi publik sering kali berlebihan.
Kritik berubah menjadi amarah.
Evaluasi berubah menjadi hujatan.
Bahkan tak jarang berujung pada perundungan di ruang publik dan media sosial.
Seolah satu kesalahan kecil cukup untuk meniadakan ribuan hari kerja tanpa cela.

Kita lupa bahwa sistem sebesar distribusi energi nasional tidak mungkin sepenuhnya bebas dari gangguan.
Kita lupa bahwa cuaca, alam, dan kondisi geografis sering kali berada di luar kendali manusia.
Kita lupa bahwa di balik seragam dan logo perusahaan, ada manusia biasa yang bekerja dengan segala keterbatasannya.

Para pekerja Patra Niaga bukan robot. Mereka punya keluarga yang menunggu di rumah. Mereka punya rasa takut ketika menghadapi laut ganas. Mereka punya lelah ketika harus mengemudi belasan jam. Namun mereka tetap berangkat, karena mereka tahu, jika energi tidak sampai, rakyat akan terdampak.
Inilah bentuk pengabdian yang jarang dibicarakan.

Energi bukan sekadar komoditas. BBM dan elpiji adalah nadi kehidupan. Tanpanya, transportasi berhenti, logistik lumpuh, rumah sakit terganggu, dan aktivitas ekonomi terhenti. Menjaga pasokan energi berarti menjaga denyut hidup bangsa.

Sayangnya, apresiasi terhadap tugas berat ini masih sangat minim. Keberhasilan dianggap kewajiban.
Kesalahan dianggap dosa besar.
Pola pikir semacam ini tidak adil, dan dalam jangka panjang bisa melemahkan semangat pengabdian.

Kritik tentu diperlukan. Pengawasan mutlak dibutuhkan.
Namun kritik yang adil harus disertai empati.
Pengawasan yang sehat harus diimbangi penghargaan terhadap kerja keras.
Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang mampu menilai dengan kepala dingin dan hati nurani.

Patra Niaga telah membuktikan bahwa di tengah keterbatasan dan tantangan geografis, distribusi energi nasional tetap berjalan. Fakta bahwa mayoritas masyarakat dapat mengakses BBM dan elpiji setiap hari adalah bukti keberhasilan yang nyata, bukan klaim kosong.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Sudah saatnya kita berhenti melihat kerja keras sebagai hal yang “memang seharusnya”, tanpa rasa terima kasih.
Sudah saatnya kita mengakui bahwa menjaga energi negeri ini membutuhkan keberanian, pengorbanan, dan dedikasi luar biasa.

Di balik setiap liter BBM dan setiap tabung elpiji yang kita gunakan, ada risiko yang ditanggung orang lain. Ada nyawa yang dipertaruhkan. Ada keringat yang jatuh. Ada doa yang dipanjatkan agar mereka bisa kembali pulang dengan selamat.

Mengapresiasi Patra Niaga bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Tetapi menempatkan kritik dan penghargaan secara seimbang, manusiawi, dan beradab.

Energi terus mengalir, negeri terus hidup. Dan selama itu pula, insan Patra Niaga akan terus bekerja-sering kali dalam senyap, sering kali tanpa sorotan.
Mereka tidak meminta pujian. Namun sebagai bangsa, kita berkewajiban untuk tidak melupakan jasa mereka.
Karena menjaga energi, sejatinya adalah menjaga kehidupan Indonesia.[•]

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

OPINI SZ : Stop Impor Solar- Jangan Gagah di Judul, Tapi Bocor di APBN

Saya termasuk yang mendukung penuh rencana Stop Impor Solar. Dukungan ini bukan...

Opini SZ: Penyaluran Elpiji 3 Kg Berbasis NIK: Solusi Administratif yang Belum Menyentuh Akar Masalah

Rencana Pemerintah Indonesia untuk menetapkan penyaluran elpiji 3 kg bersubsidi berbasis NIK...

Gerakan Bawah Tanah Prabowo Swasembada Energi

Oleh : Salamuddin Daeng Sebenarnya kalau direnungkan langkah langkah pokok presiden Prabowo...

Akses Jalan Menjadi Kunci Pemulihan Listrik Pascabencana di Aceh dan Sumatera

Oleh: Sofyano ZakariaPengamat Kebijakan EnergiDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI) Pemulihan layanan...