Home MIGAS Minyak Dunia Melejit, Sektor Hulu Untung, Sektor Hilir “Buntung”
MIGAS

Minyak Dunia Melejit, Sektor Hulu Untung, Sektor Hilir “Buntung”

Share
Harga BBM Nonsubsidi Disesuaikan Lagi, Energy Watch: Itu Hal yang Wajar
Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional hari ini melonjak USD1,31 per barel, atau 1,75 persen menjadi USD76,05 per barel. Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melambung USD1,23, atau 1,7 persen menjadi USD73,62 per barel.

Pengetatan pasokan oleh negara-negara penghasil minyak atau OPEC Plus, serta stok minyak Amerika yang menyusut menjadi penyebab utama harga minyak melonjak. Kondisi itu juga mendongkrak harga Indonesian Crude Price (ICP) ke level yang lebih tinggi.

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan, situasi ini bisa dimaknai dua hal, yaitu keberkahan untuk sektor hulu, namun bisa juga menjadi kerugian bagi sektor hilir, karena pengaturan penjualan sektor hilir yang dinilai masih membebani badan usaha.

“Di sektor hulu ini jadi berkah karena memang dengan harga yang tinggi ini kan secara otomatis nanti ICP kita kan masih terus akan meningkat. Sedangkan ICP ini kan akan menjadi acuan PNBP (Pendapatan Negara bukan Pajak) di sektor hulu migas. Jadi ketika harga tinggi maka PNBP kita dipastikan akan mengalami peningkatan ICP kita kan di APBN 2021dipatok USD45 per barel. Sedangkan saat ini kan sejak awal pandemi kan sudah diatas USD45 per barel,” jelas Mamit kepada Situsenergi
Com, Jumat (30/7/2021).

Sementara untuk sektor hilir, kenaikan harga minyak berarti kenaikan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) di tingkat hilir atau SPBU.

“Sebenarnya tidak terlalu berdampak terhadap masyarakat, tapi cukup banyak dampaknya bagi badan usaha seperti Pertamina. Karena kalau kita lihat harga BBM Pertamina tidak mengalami kenaikan, sedangkan harga minyak dunia naik,” ungkapnya.

Di sisi lain, kata Mamit, meski harga BBM di SPBU swasta sudah beberapa kali naik, namun di SPBU Pertamina belum pernah naik. Hal ini tentu menimbulkan dampak yang besar bagi perusahaan.

“Dalam perhitungan saya ada kerugian yang cukup besar yang dialami Pertamina terutama untuk jenis BBM non subsidi seperti Pertamax, Pertalite, atau Pertamax series. Karena kalau harga minyak naik otomatis harga MOPS di Singapura juga naik. Dan kurs mata uang rupiah juga saat ini tidak baik, ini mempengaruhi keuangan Pertamina,” pungkasnya. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Hilirisasi Batu Bara Digeber! Pertamina–MIND ID Siapkan DME Pengganti LPG Impor

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) dan Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID...

RDMP Balikpapan Dikebut! Proyek Rp123 T Jadi Tulang Punggung Energi Nasional

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) terus menggeber Proyek Refinery Development Master Plan...

PDSI Buka 2026 dengan Doa Bersama, Tegaskan Komitmen Keselamatan dan Ketahanan Energi

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) mengawali tahun 2026 dengan...

Proyek Geothermal PGE Lahendong Dijaga Ketat, Ini Strategi Amankan Operasi & Risiko

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) semakin serius mengawal proyek...