Home MIGAS Minyak Brent Nyaris Sentuh Level USD140 Per Barrel, Namun Kini Turun Lagi
MIGAS

Minyak Brent Nyaris Sentuh Level USD140 Per Barrel, Namun Kini Turun Lagi

Share
Dampak Perang Hamas-Israil, Kementrian ESDM Terus Monitor Harga Minyak dan Gas
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak dunia jenis Brent dan West texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh level tertinggi sejak 2008 yaitu masing-masing USD139,13 per barel dan USD130,50, pada sesi perdagangan Senin 7 Maret 2022. 

Lonjakan harga minyak itu terjadi karena Amerika Serikat dan sekutu Eropa mempertimbangkan untuk melarang impor minyak Rusia,  sementara tampaknya sangat kecil kemungkinan barel Iran akan kembali dengan cepat ke pasar global.

Dikutip dari laporan reuters di New York, Senin 7 Maret 2022 atau Selasa 8 Maret 2022 pagi WIB, harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, berakhir melesat USD5,1 atau 4,3 persen, menjadi menetap di USD123,21 per barel.

Sementara itu, patokan Amerika, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), ditutup melejit USD3,72, atau 3,2 persen, menjadi USD119,40 per barel.

“Gambaran yang lebih besarnya adalah gangguan pasokan semakin buruk,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates di Houston. “Tidak ada yang ingin menyentuh apa pun yang berhubungan dengan Rusia.”

Harga minyak global meroket sekitar 60 persen sejak awal 2022, meningkatkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global dan stagflasi. China, ekonomi terbesar kedua dunia, menargetkan pertumbuhan yang lebih lambat sebesar 5,5 persen tahun ini.

Minggu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan Amerika Serikat dan sekutu Eropa sedang menjajaki pelarangan impor minyak Rusia. Gedung Putih, Senin, mengatakan Presiden Joe Biden belum membuat keputusan tentang larangan impor minyak Rusia.

Harga minyak bisa melesat jadi lebih dari USD300 per barel jika Amerika Serikat dan Uni Eropa melarang impor minyak dari Rusia, ungkap Wakil Perdana Menteri Alexander Novak, Senin.

“Kami menganggap USD125 per barel, perkiraan jangka pendek kami untuk minyak mentah Brent, sebagai batas yang lemah bagi harga, meski harga bisa bergerak lebih tinggi lagi jika gangguan memburuk atau berlanjut untuk periode yang lebih lama,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo.

Perang berkepanjangan di Ukraina dapat mendorong Brent diatas USD150 per barel, papar dia.

Analis Bank of America mengatakan jika sebagian besar ekspor minyak Rusia terputus, mungkin ada kekurangan 5 juta barel per hari atau lebih besar dari itu, mendorong harga setingginya USD200.

Rusia adalah eksportir minyak mentah dan produk minyak terbesar di dunia, dengan ekspor sekitar 7 juta barel per hari, atau 7 persen dari pasokan global.

Beberapa volume ekspor minyak Kazakhstan dari pelabuhan Rusia juga menghadapi komplikasi. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PDSI Sabet Best Collaboration Excellence 2026, Bukti Kekuatan Sinergi di Sektor Pengeboran Energi

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) kembali menunjukkan taringnya di...

Pertamina NRE Dorong Investasi Energi Bersih ASEAN, Perkuat Kolaborasi Regional

Jakarta, situsenergi.com Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mempertegas komitmennya dalam...

Jakarta Pertamina Enduro Runner-up Proliga 2026, Siap Tancap Gas di Final Four

Jakarta, situsenergi.com Jakarta Pertamina Enduro memastikan posisi runner-up klasemen Proliga putri 2026...

Pasokan Avtur Aman Jelang Lebaran! AFT Halim Jadi Andalan Pertamina Jaga Kualitas BBM Pesawat

Jakarta, situsenergi.com Menjelang lonjakan penerbangan saat Ramadan dan Idulfitri, PT Pertamina (Persero)...