Home MIGAS Manfaat BBM Beroktan Tinggi untuk Mesin Kendaraan
MIGAS

Manfaat BBM Beroktan Tinggi untuk Mesin Kendaraan

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Kenaikan konsumsi bahan bakar munyak (BBM) ramah lingkungan yang tidak hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya tapi juga di berbagai daerah di tanah air menunjukan tren peningkatan yang cukup baik. Hal ini tentu saja menjadi kabar positif yang mengindikasikan, bahwa edukasi Pertamina ke masyarakat berhasil.

Masyarakat perlu tahu bahwa pemakaian BBM beroktan tinggi lebih baik untuk pengguna kendaraan bermotor karena menghindarkan mesin dari kondisi detonasi atau pembakaran yang tidak terkontrol dan tidak tepat pada waktunya.

Dalam kasus oktan rendah, pembakaran bisa terjadi di tempat lain dan gelombang pembakaran tadi akan bertabrakan dengan sumber lain yang akan menyebabkan detonasi atau yang biasa kita kenal dengan mesin menggliitik. Padahal seharusnya pembakaran di ruang bakar mesin motor itu terjadi ketika businya menyala yang kemudian akan merambat ke tempat lain, bukan malah sebaliknya.

Untuk itu, akan lebih baik jika masyarakat menggunakan bahan bakar dengan oktan yang lebih tinggi, karena selain bagus untuk perawatan mesin kendaraan, juga menghasilkan emisi gas buang yang lebih kecil.

Pasalnya, antara spesifikasi bahan bakar dengan emisi gas buang ada hubungan seperti yang sudah diatur di dalam standar internasional World Wide Fuel Charter (WWFC).

“Spesifikasi bahan bakar sudah diatur di dalam standar internasional WWFC di mana ada ketentuan kalau regulasi emisi gas buang Euro 4 maka spesifiksi bahan bakar harus katagori 3 atau 4, itu sudah ada ketentuannya,” kata Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, Prof.Tri Yuswidjajanto Zaenuri saat dihubungi beberapa waktu lalu

“Di dalam ketentuan WWCF tersebut, sama sekali tidak direkomendasikan untuk menggunakan premium atau bahan bakar lain dengan oktan di bawah RON 91,” tambah dia.

Menurut Prof Tri, setiap kendaraan sudah memiliki hitungan rasio kompresi mesin. Hasil dari hitungan tersebut menentukan jenis BBM yang harus digunakan, dan tinggal disesuaikan saja dengan data spek.

“Sebagai contoh, mobil dengan rasio kompresi mesin di atas 10:1 harusnya sudah pakai RON 92 atau setara Pertamax. Sementara untuk yang di atas 11:1 atau 12:1 tentu harus pakai oktan yang lebih tinggi lagi. Jadi yang terpenting adalah mengikuti anjuran pabrikan, karena mereka yang telah mengatur engine management seperti apa, kompresinya, dan lain-lain,” paparnya.

Terkait emisi gas buang yang lebih kecil dihasilkan oleh bahan bakar dengan oktan yang lebih tinggi menurut Prof. Tri akan lebih baik untuk kesehatan manusia dan membuat lingkungan lebih terjaga.

“Jadi harapan agar masyarakat mau beralih menggunakan BBM ber-oktan lebih tinggi ini selain untuk perawatan mesin kendaraan, juga berdampak lebih baik bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan terutama untuk generasi mendatang. Karena yang akan merasakannya nanti adalah anak cucu kita nanti,” tutup Prof Tri.(Rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PDSI Buka 2026 dengan Doa Bersama, Tegaskan Komitmen Keselamatan dan Ketahanan Energi

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) mengawali tahun 2026 dengan...

Proyek Geothermal PGE Lahendong Dijaga Ketat, Ini Strategi Amankan Operasi & Risiko

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) semakin serius mengawal proyek...

Uji Coba Biodiesel B50 Rampung Semester I 2026, Pemerintah Bidik Stop Impor Solar

Jakarta, situsenergi.com Pemerintah terus mematangkan kebijakan mandatori biodiesel sebagai strategi menekan ketergantungan...

Skor ESG Naik, Pertamina Tetap Peringkat 1 Dunia Sub Industri Integrated Oil and Gas

Jakarta, situsenergi.com Kinerja keberlanjutan PT Pertamina (Persero) terus menguat. Lembaga pemeringkat global...