Logo SitusEnergy
Kehadiran Jonan Saat Peresmian SPBU Vivo Dipertanyakan Kehadiran Jonan Saat Peresmian SPBU Vivo Dipertanyakan
Bandung, situsenergy.com Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean mengatakan, hadirnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan untuk meresmikan SPBU... Kehadiran Jonan Saat Peresmian SPBU Vivo Dipertanyakan
Bandung, situsenergy.com
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean mengatakan, hadirnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan untuk meresmikan SPBU VIVO patut dipertanyakan.
Menurut Ferdinand, seharusnya sebagai perwakilan pemerintah, Jonan akan lebih elok meresmikan SPBU milik Pertamina yang berada di Papua daripada meresmikan SPBU milik swasta. “Investasi Vivo tu berapa sih, kenapa harus Jonan yang meresmikan?” tukas Ferdinand kepada wartawan, di Bandung, Jumat (27/10).
 Lebih jauh Ferdinand mempertanyakan kenapa harga jual RON 89 Vivo lebih murah dari RON 88 Pertamina. “Ini harus dibuka ke publik, buka saja mekanisme penetapan harga BBM. Bagaimana hitung-hitungannya,” ungkap dia.
Kehadiran Jonan meresmikan SPBU milik swasta itu juga dipertanyakan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB). Menurut Presiden FSPPB, Noviandri, lazimnya SPBU hanya diresmikan seorang Dirjen Migas atau bahkan pejabat di bawah Dirjen. Apa maksud dari semua ini,” katanya.
Noviandri juga mempertanyakan kenapa undangan peliputan media dari SPBU swasta tersebut dilakukan oleh instansi pemerintah lewat Kementerian ESDM. “Ini suatu hal yang tidak lazim, proyek pemerintah saja yang mengundang media adalah istansi penanggung jawab proyek tersebut,” katanya.
Sebelumnya,) Jonan menjelaskan bahwa  kesediannya meresmikan SPBU Vivo adalah karena harga yang bersaing bagi masyarakat, dan sesuai dengan arahan Presiden Jokowi dalam menyediakan BBM yang murah.
“Sekarang, Revo ini kenapa saya sampai datang, dia jual yang RON 89, RON 90, RON 92. Nah, yang 89 dia jual di Rp 6.100 per liter. Kalau RON 88 yang (dijual Pertamina) dalam penugasan kan Rp 6.450 per liter sama Rp 6.650 per liter. Ini RON lebih tinggi, harga juga bersaing. Jadi masyarakat punya pilihan. Ini sesuai dengan arahan Pak Presiden,” ujar Jonan. (adi)
BACA JUGA   Dengan Inovasi dan Upaya Optimasi, Kinerja PHM Lampaui Target Di 2020

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *