Home MIGAS Imbas Peningkatan Produksi, Harga Minyak Anjlok 4 Persen
MIGAS

Imbas Peningkatan Produksi, Harga Minyak Anjlok 4 Persen

Share
Imbas Peningkatan Produksi, Harga Minyak Anjlok 4 Persen
Share

New York, Situsenergi.com

Harga minyak dunia anjlok cukup dalam, hingga lebih dari 4 persen sebagai imbas dari lonjakan pasokan dari negara-negara penghasil minyak (OPEC +) dan juga Iran. Kondisi ini menghentikan trend penguatan akibat optimisme rebound-nya perekonomian Amerika Serikat (AS), paska stimulus USD1,9 triliun.

Sebagaimana diketahui, OPEC + pada  Kamis pekan lalu telah menyepakati kenaikan produksi bulanan dari Mei hingga Juli. Anggota OPEC, Iran, yang dibebaskan dari pemotongan sukarela, juga meningkatkan pasokan.

“Waktunya tidak tepat,” kata Bob Yawger, Direktur Mizuho Securities. “Sepertinya OPEC + akan membuat kesepakatan, tetapi mereka tidak melakukannya dan sekarang sepertinya mereka harus membayar setidaknya dalam jangka pendek.”

Dikutip dari laporan Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup merosot USD2,71 atau 4,2 persen, menjadi USD62,15 per barel, demikian laporan Reuters  dan  Investing,  di New York, Senin (5/4/2021) atau Selasa (6/4/2021) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut USD2,80 atau 4,6 persen, menjadi USD58,65 per barel. WTI sebelumnya mencapai level terendah dua minggu di USD57,63 per barel.

Dalam perkembangan lain yang pada akhirnya dapat meningkatkan pasokan, investor fokus pada perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat sebagai bagian dari negosiasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.

“Ada asumsi bahwa kita akan melihat banjir minyak Irian di pasar,” kata Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago. “Saya pikir ini sedikit berlebihan.”

Analis Eurasia Henry Rome memperkirakan sanksi Amerika, termasuk pembatasan penjualan minyak Iran, akan dicabut hanya setelah pembicaraan ini selesai dan Teheran kembali patuh. Iran sendiri telah meningkatkan ekspor ke China meski ada sanksi tersebut.

Minyak pulih dari posisi terendah bersejarah tahun lalu dengan dukungan rekor pemotongan OPEC Plus, yang sebagian besar akan tetap bertahan setelah Juli. Permintaan diperkirakan pulih lebih lanjut pada semester kedua.

Kendati peluncuran vaksin yang lambat dan penguncian kembali beberapa bagian Eropa membebani pasar, data yang dirilis Jumat menunjukkan ekonomi Amerika menciptakan lapangan kerja paling banyak dalam tujuh bulan pada periode Maret.

Namun, pengetatan  lockdown  di Prancis dan lonjakan kasus di India meredupkan prospek rebound ekonomi global untuk meningkatkan permintaan minyak. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PDSI Buka 2026 dengan Doa Bersama, Tegaskan Komitmen Keselamatan dan Ketahanan Energi

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) mengawali tahun 2026 dengan...

Proyek Geothermal PGE Lahendong Dijaga Ketat, Ini Strategi Amankan Operasi & Risiko

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) semakin serius mengawal proyek...

Uji Coba Biodiesel B50 Rampung Semester I 2026, Pemerintah Bidik Stop Impor Solar

Jakarta, situsenergi.com Pemerintah terus mematangkan kebijakan mandatori biodiesel sebagai strategi menekan ketergantungan...

Skor ESG Naik, Pertamina Tetap Peringkat 1 Dunia Sub Industri Integrated Oil and Gas

Jakarta, situsenergi.com Kinerja keberlanjutan PT Pertamina (Persero) terus menguat. Lembaga pemeringkat global...