Home ENERGI Harga Minyak Anjlok Lebih Dari 3 Persen, Ini Penyebabnya
ENERGI

Harga Minyak Anjlok Lebih Dari 3 Persen, Ini Penyebabnya

Share
Share

New York, SitusEnergy.com

Harga minyak anjlok hingga lebih dari 3 persen setelah data stok Amerika menunjukkan pelemahan permintaan untuk produk pengilangan, sebagai akibat dari melonjaknya kasus Covid-19 global.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup anjlok USD1,43 atau 3,3 persen menjadi USD41,73 per barel, demikian dikutip dari laporan  Reuters,  di New York, Rabu (21/10/2020) atau Kamis (22/10/2020) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), anjlok USD1,67, atau 4 persen, menjadi USD40,03 per barel. Kedua patokan tersebut menguat di sesi sebelumnya.

Persediaan minyak mentah Amerika turun 1 juta barel dalam sepekan hingga 16 Oktober menjadi 488,1 juta barel, sementara stok bensin melonjak, menunjukkan melemahnya permintaan bahan bakar.

Produk secara keseluruhan yang dipasok, mewakili permintaan, tetap merosot 13 persen pada tahun ini dan selama empat pekan terakhir dibandingkan periode tahun lalu.

“Pasar secara serius bergulat dengan permintaan setelah terus meningkatnya kasus Covid-19,” kata Tony Headrick, analis CHS Hedging.

Menambah tekanan, kasus Covid-19 di seluruh dunia melampaui 40 juta, Selasa, dengan beberapa bagian Eropa memberlakukan langkah-langkah penguncian yang baru.

“Brent sangat terekspos terhadap kawasan Eropa yang sedang menjalani  lockdown  yang baru,” kata Headrick.

Selasa, Menteri Energi Rusia mengatakan masih terlalu dini untuk membahas masa depan pembatasan produksi minyak global setelah Desember, kurang dari sepekan setelah menyatakan rencana untuk mengurangi pembatasan produksi harus dilanjutkan.

Awal tahun ini, Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) dan sekutunya termasuk Rusia – bersama-sama dikenal sebagai OPEC Plus – sepakat untuk memangkas pengurangan produksi pada Januari dari 7,7 juta barel per hari (bph) saat ini menjadi sekitar 5,7 juta bph.

Pada saat bersamaan, anggota OPEC Libya, yang dibebaskan dari fakta pemotongan tersebut, juga meningkatkan produksi setelah konflik bersenjata menutup hampir semua produksinya pada Januari. Produksi pulih kembali menjadi sekitar 500.000 bph dengan Tripoli memperkirakan angka itu menjadi dua kali lipat pada akhir tahun.

Pertarungan atas RUU bantuan virus corona AS yang besar dan kuat akan berlanjut hingga Rabu ketika Gedung Putih dan Partai Demokrat berupaya untuk mencapai kesepakatan sebelum pemilu 3 November, sekarang dengan dorongan dari Presiden Donald Trump. (SNU/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...