Jakarta, situsenergi.com
Tekanan pada ekspor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia semakin terasa sepanjang Januari–November 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor migas hanya mencapai USD11,81 miliar, turun 17,64% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD14,34 miliar.
Pelemahan paling tajam terjadi pada November 2025. Pada periode tersebut, ekspor migas merosot 32,88% dari USD1,31 miliar menjadi USD880 juta. Penurunan ini langsung mendorong defisit neraca perdagangan migas melebar hingga USD1,98 miliar, terutama akibat kinerja hasil minyak dan minyak mentah yang terus tertekan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menegaskan bahwa defisit migas masih menjadi bayang-bayang bagi perdagangan nasional. “Surplus Januari sampai November 2025 ditopang nonmigas sebesar USD56,15 miliar, sementara migas masih defisit USD17,61 miliar,” ujar Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Di sisi lain, kinerja ekspor nasional secara agregat masih mencatat pertumbuhan. Total ekspor Indonesia naik 5,61% secara tahunan menjadi USD256,56 miliar. Namun, kontribusi migas terus menyusut dan tertinggal jauh dibandingkan sektor nonmigas.

Lonjakan ekspor nonmigas, khususnya dari industri pengolahan yang tumbuh 14% secara tahunan, menjadi penopang utama surplus perdagangan. Meski begitu, tren pelemahan ekspor migas menegaskan bahwa sektor ini masih menjadi titik rapuh dalam struktur perdagangan Indonesia hingga akhir 2025. (DIN/GIT)
Leave a comment