“Sebuah Kisah alegoris-satirikal tentang kelembagaan, koordinasi, dan drama birokrasi di Negeri Administratia”
Oleh : Andi N Sommeng
Negeri Fiktif Administratia dan Munculnya Danantara.
Di negeri fiktif Administratia, segala sesuatu diatur oleh peraturan turunan, petunjuk pelaksanaan, dan lampiran yang lebih tebal dari induknya.
Suatu hari, pemerintah melahirkan sebuah lembaga baru bernama Danantara—lembaga investasi negara yang diimpikan menjadi katalis pertumbuhan, penjaga masa depan, dan penyambung silaturahmi antar-BUMN yang sering lupa bertegur sapa.
Danantara diberi mandat mulia:
- mengelola dana besar,
- menumbuhkan investasi strategis,
- menjaga ketahanan energi,
- sekaligus memastikan setiap stakeholder merasa paling penting.
Sebuah tugas yang secara teoritis sederhana, tapi secara praktik sama rumitnya dengan membuat semua serabut kabel di gardu distribusi tampak rapi.
Holding BUMN: Keluarga Besar Dengan Banyak Kepala dan Banyak Agenda
Danantara harus berinteraksi dengan Holding BUMN, keluarga besar yang terdiri dari berbagai klan bisnis: energi, pertambangan, pangan, pelabuhan, dan infrastruktur.
Masing-masing holding memiliki:
- visi sendiri
- bahasa administrasi sendiri
- dan tentu, ego korporat sendiri.
Jika rapat koordinasi terjadi, maka:
- Holding Energi bicara tentang transisi energi,
- Holding Pertambangan bicara hilirisasi,
- Holding Pangan bicara stabilitas harga,
- Holding Infrastruktur bicara konektivitas,
dan Danantara harus mengangguk seraya menyalin notulen tiga dimensi: politik, fiskal, dan teknokratis.
BUMN-BUMN: Para Anak-anak yang Rajin Tapi Kadang Saling Berebut Peran.
Di bawah holding, ada para BUMN yang rajin bekerja, namun sering lupa bahwa mereka berada dalam satu rumah.

Ada yang merasa:
- lebih senior (“ Kami sudah ada sebelum holding ini lahir !”),
- lebih strategis (“ Kami backbone negara !”),
- atau lebih modern (“ Kami sudah punya aplikasi mobile yang tak semua orang pakai .”).
Danantara datang membawa investasi, skema pembiayaan, dan roadmap energi.
Namun beberapa BUMN bertanya hal-hal eksistensial seperti:
- Investasi ini capex atau opex?
- SPV-nya di bawah siapa?
- Kalau rugi, siapa yang menanggung? Holding? Danantara? Atau sebaiknya kita susun payung hukum baru?
Danantara pun menyadari,
mengurus investasi nasional itu mirip mengurus keluarga besar saat lebaran: semua mau makan, tapi tidak semua mau bantu masak.
Drama Tata Kelola: Ketika SOP Lebih Banyak Dari Aksi
Setiap kali proyek strategis dibahas, muncul ritual khas:
- Membuat Komite Bersama
- Membentuk Task Force
- Membuat Desk Khusus
- Merevisi TOR yang belum sempat diimplementasikan
Membuat rapat lanjutan untuk membahas rapat sebelumnya
Danantara pun bertanya dalam hati:
“ Apakah kita sedang membangun investasi, atau membentuk museum dokumen? ”
Namun ia tetap sabar, sebab ia dibesarkan dalam keluarga yang mempercayai tata kelola sebagai seni, bukan sekadar aturan.
Ketika Holding dan BUMN Bingung: Siapa Sebenarnya ‘Lead Authority’?
Dalam banyak proyek,
Holding mengaku pemilik strategi,
BUMN mengaku pemilik aset,
Danantara mengaku pemilik capital,
Kementerian teknis mengaku pemilik regulasi,
dan Kementerian BUMN mengaku pemilik arah kebijakan.
Hasilnya?
Kadang lima pihak mengklaim kepemimpinan, namun tidak ada satu pun yang menekan tombol ‘execute’.
Danantara, sebagai anak baru yang sopan, hanya berkata:
“ Boleh kami tahu siapa yang memegang kendali hari ini, atau kita bahas dulu dalam rapat koordinasi lintas-lembaga mengenai koordinasi lintas-lembaga? ”
Potensi Besar, Jalan Panjang, Tapi Masih Membawa Harapan
Namun bukan berarti kisahnya gelap.
Justru dalam kerumitan ini, ada potensi kolaborasi luar biasa.
Danantara akhirnya:
- menjadi jembatan antar-klan,
- memperkenalkan disiplin finansial baru,
- mendorong investasi strategis jangka panjang,
- dan perlahan membuat BUMN belajar bahwa sinergi itu bukan jargon—tapi kebutuhan.
Dan meski kadang proses administratifnya “take times”—kata halus dari “lama seperti menunggu tender PLTS 50 MW”—tetapi visi besarnya tetap hidup.
Danantara percaya:
Jika semua anggota keluarga mau duduk bersama, menaruh ego di rak depan, dan mengutamakan tujuan nasional, negeri Administratia bisa bergerak lebih cepat dari laju tanda tangan para pejabatnya .
Dan di ujung cerita, narator menutup buku tebal bertanda: “Reformasi Tata Kelola Edisi Revisi”,
lalu berkata:
“ Di tanah tempat SOP lahir dari SOP lain, Danantara adalah harapan baru—asal kita punya keberanian untuk mengeksekusi .”
|A||N||S|
Dosen-GBUI
Buitenzorg,
29Nopember2025
Verba volant, scripta manent
Leave a comment