Home MIGAS BBM Euro 4 Berpotensi Rusak Kinerja Mesin Berkomprensi Rendah
MIGAS

BBM Euro 4 Berpotensi Rusak Kinerja Mesin Berkomprensi Rendah

Share
Program BBM Bersubsidi Tepat Sasaran Hadapi Tantangan Besar
Share

Jakarta, situsenergi.com

Upaya pemerintah memastikan penyaluran BBM bersubsidi yang lebih tepat sasaran dengan mengadopsi standar Euro 4 pada 1 September 2024 akan menghadapi tantangan berat. Salah satunya adalah praktik rente dan ketidaksesuaian teknologi mesin kendaraan di Indonesia.

Achmad Nur Hidayat, Ekonom UPN Veteran Jakarta menjelaskan bahwa pengendalian dan pengaturan BBM bersubsidi ini memiliki tujuan yang baik untuk meningkatkan kualitas udara dan memastikan subsidi BBM diterima oleh yang benar-benar membutuhkan. Terlebih anggaran subsidi BBM yang terus membesar, dengan alokasi anggaran mencapai Rp189,1 triliun pada 2024 mengharuskan dana subsidi ini tepat sasaran.

“Pengunaan BBM Euro 4 di Indonesia berpotensi merusak kinerja mesin berkompresi rendah, memperbesar subsidi serta memperluas benturan kepentingan dan praktik memburu rente,” kata Achmad Nur Hidayat dalam keterangannya, Kamis (18/7/2024).

Ketidaksesuaian dengan mesin kendaraan Mayoritas kendaraan di Indonesia masih menggunakan mesin dengan teknologi injeksi bahan bakar dan kompresi rendah. Bahan bakar dengan RON tinggi seperti standar Euro 4 memerlukan tekanan dan suhu pembakaran yang lebih tinggi untuk terbakar dengan sempurna.

Pada mesin berkompresi rendah, ini dapat menyebabkan pembakaran yang tidak sempurna, menghasilkan emisi berbahaya yang lebih tinggi seperti karbon monoksida dan hidrokarbon yang tidak terbakar sepenuhnya.

“Alih-alih memperbaiki kualitas udara, hal ini dapat memperburuk polusi udara,” katanya.

Ketidaktepatan sasaran subsidi BBM selama ini sering kali tidak tepat sasaran, lebih banyak dinikmati oleh kalangan mampu yang memiliki kendaraan pribadi dibandingkan dengan masyarakat miskin yang lebih membutuhkan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa penyalahgunaan dan penyelewengan subsidi BBM masih sering terjadi.

“Tanpa pengawasan yang ketat, risiko ketidaktepatan sasaran subsidi akan terus ada,” kata dia. (DIN/SL)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Uji Coba Biodiesel B50 Rampung Semester I 2026, Pemerintah Bidik Stop Impor Solar

Jakarta, situsenergi.com Pemerintah terus mematangkan kebijakan mandatori biodiesel sebagai strategi menekan ketergantungan...

Skor ESG Naik, Pertamina Tetap Peringkat 1 Dunia Sub Industri Integrated Oil and Gas

Jakarta, situsenergi.com Kinerja keberlanjutan PT Pertamina (Persero) terus menguat. Lembaga pemeringkat global...

Patra Jasa Group Turun Langsung! 500 Penyintas Banjir Sumatra Terima Bantuan Kemanusiaan

Jakarta, situsenergi.com Patra Jasa Group bergerak cepat membantu warga terdampak banjir bandang...

Pertamina EP Temukan Sumur Minyak Baru di Adera, Potensi 3.442 BOPD

Jakarta, Situsenergi.com PT Pertamina EP (PEP) Adera Field kembali mencatat temuan penting...