Logo SitusEnergy
Atasi Dampak Kenaikan BBM, Sinergi Pemerintah Pusat – Daerah Kawal Daya Beli Masyarakat Atasi Dampak Kenaikan BBM, Sinergi Pemerintah Pusat – Daerah Kawal Daya Beli Masyarakat
Jakarta, Situsenergi.com Dampak Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah dipastikan berdampak luas terhadap sejumlah kenaikan harga barang dan jasa. Kenaikan harga barang dan... Atasi Dampak Kenaikan BBM, Sinergi Pemerintah Pusat – Daerah Kawal Daya Beli Masyarakat

Jakarta, Situsenergi.com

Dampak Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah dipastikan berdampak luas terhadap sejumlah kenaikan harga barang dan jasa.

Kenaikan harga barang dan jasa juga sudah mengalami kenaikan di sejumlah daerah, kenaikan itu dipicu naiknya ongkos angkutan penyeberangan, ongkos angkutan truk hingga ongkos logistik.

Di sisi lain, gejolak global yang saat ini terjadi juga menjadi catatan penting kebijakan yang harus diambil pemerintah.

Kementrian Perekonomian menyebutkan ekonomi global sedang menghadapi turbulence dan ketidak pastian.

“Krisis pangan dan krisis energi-BBM pun tidak terhindarkan sebagai akibat dari dirupsi geopolitikakibat lanjutannya seluruh negara dunia, tidak terkecuali Indonesia, dihadapkan pada risiko inflasi yang tinggi,” tulis kementerian perekonomian dalam pernyataannya, dikutip Jumat, (30/09/2022).

Kurs seluruh negara terhadap mata uang USD ikut mengalami tekanan, sebagai contoh Kurs Rupiah melemah hingga 6.5%, namun berbagai negara melemah jauh lebih dalam, kurs Yen Jepang melemah 20.4%, Kurs China Yuan melemah 11.5%, Kurs Poundsterling melemah 19.8 %, Kurs Thai Bath melemah 12.94%, kurs Dollar Singapura melemah 6.3% dan kurs Peso Pilippina melemah 13.3 %.

BACA JUGA   Nicke : Pemerintah Subsidi-Beri Kompensasi Solar Rp 13.000 dan Pertalite Rp 9.950 Per Liter

Menko Airlangga mengingatkan kembali perlunya upaya bersama untuk mengendalikan inflasi, menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

“Sinergi dari TPIP dan TPID terus dilakukan melalui berbagai langkah dan program, yang bertujuan untuk menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, dan menjamin kelancaran distribusi,” tutur Menko Airlangga.

Dikatakannya, Indonesia secara umum relatif lebih baik karena kita bisa menjaga keseimbangan kebijakan fiskal dan moneter secara tepat, disamping kebijakan struktural yang terus dijalankan sehingga kepercayaan dunia usaha dan investor tetap terpelihara. Kebijakan Bank Sentral di seluruh dunia menaikkan suku bunga secara agresif adalah dalam rangka mendinginkan pemanasan inflasi yang sudah terlalu tinggi.

“Inflasi menjadi musuh terbesar dunia sekarang. Inflasi Indonesia masih berada di level 4 – 5%, sementara inflasi di berbagai negara maju sudah berada di kisaran 8 – 10%,” kata dia.(SA/SL)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *