Jakarta, Situsenergi.com
Potensi biomassa Indonesia mulai dilirik untuk menghasilkan hidrogen rendah karbon. Penjajakan pengembangan fasilitas produksi berbasis teknologi gasifikasi plasma kini memasuki tahap awal melalui kesepakatan kerja sama antarpihak.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerahasiaan atau Non-Disclosure Agreement (NDA) di Centennial Tower, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Melalui kesepakatan ini, para pihak akan bertukar informasi dan mengevaluasi sejumlah aspek penting, mulai dari ketersediaan biomassa sebagai bahan baku, potensi penyerapan hidrogen oleh calon pengguna (offtake), hingga peluang partisipasi investasi.
Gasifikasi Plasma Jadi Teknologi yang Dijajaki
Penjajakan ini membuka peluang pemanfaatan biomassa untuk menghasilkan produk energi bernilai tambah lebih tinggi. Dengan pendekatan tersebut, biomassa tidak hanya berfungsi sebagai bahan bakar, tetapi juga berpotensi mendukung diversifikasi energi nasional.
Direktur Biomassa, Hokkop Situngkir, menilai penandatanganan NDA menjadi fondasi awal untuk membangun kerja sama sekaligus melindungi informasi penting yang akan dipertukarkan.
“Penandatanganan Perjanjian Kerahasiaan atau Non-Disclosure Agreement (NDA) pada hari ini merupakan langkah awal yang sangat penting dan strategis. Langkah ini menjadi fondasi hukum serta bentuk komitmen bersama dalam menjaga kerahasiaan dan keamanan informasi sensitif,” ujar Hokkop.
Menurutnya, kesepakatan tersebut menjadi dasar bagi para pihak untuk melanjutkan pembahasan rencana pengembangan hidrogen rendah karbon.
Kolaborasi Dibutuhkan untuk Mengolah Potensi Biomassa
CEO sekaligus Founder FLEXIH Inc., Dr. Natarianto Indrawan, menekankan pentingnya kolaborasi untuk menghubungkan potensi sumber daya domestik dengan kebutuhan industri.
Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Karena itu, pemanfaatan teknologi dan kerja sama lintas pihak menjadi bagian penting dalam penjajakan pengembangan energi tersebut.
“Pengembangan energi masa depan tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri. Kita perlu membangun kolaborasi yang menghubungkan potensi sumber daya dan kebutuhan industri. Indonesia memiliki kekayaan biomassa yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi,” ungkap Natarianto.
Hidrogen Rendah Karbon Masuk Penjajakan Transisi Energi
Rencana ini masih berada pada tahap penjajakan. Para pihak perlu mengevaluasi potensi bahan baku, peluang pasar hidrogen, serta skema investasi sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

Meski demikian, inisiatif tersebut menunjukkan upaya mengembangkan biomassa menjadi sumber energi dengan nilai tambah lebih besar. Pengembangan hidrogen rendah karbon berbasis gasifikasi plasma diharapkan dapat mendukung diversifikasi energi dan agenda dekarbonisasi Indonesia. (DIN/GIT)
Leave a comment