Jakarta, situsenergi.com
PT Barito Renewables Energy Tbk mencatat kinerja solid sepanjang 2025. Perusahaan membukukan pendapatan konsolidasian USD605 juta atau naik 1,4% secara tahunan (YoY). Sementara itu, laba bersih setelah pajak mencapai USD165 juta, tumbuh 6,5% YoY.
Kinerja ini ditopang efisiensi biaya dan pengelolaan utang yang lebih optimal. Total aset tercatat USD3,87 miliar, sedangkan liabilitas turun menjadi USD2,98 miliar. Rasio utang terhadap ekuitas ikut membaik ke level 2,36 kali.
Dari sisi operasional, EBITDA mencapai USD518 juta dengan margin tinggi 85,6%. Capaian ini mencerminkan stabilnya kinerja pembangkit panas bumi. Kapasitas terpasang bruto juga naik 24 MW menjadi 910 MW, seiring rampungnya proyek retrofit Salak dan tambahan dari Unit Binary Salak.
CEO Hendra Soetjipto Tan menyebut peningkatan kapasitas menjadi faktor penting.
“Sepanjang tahun ini, kami berhasil menyelesaikan proyek retrofit Salak dan kontribusi dari Unit Binary Salak, yang semakin memperkuat kapasitas panas bumi kami,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan menyelesaikan dua sumur eksplorasi di Hamiding pada akhir 2025. Ke depan, Barito Energy menargetkan Salak Unit 7 dan Wayang Windu Unit 3 mulai beroperasi komersial pada akhir 2026.
Dengan tambahan tersebut, total kapasitas panas bumi diproyeksikan melampaui 1 GW. Hendra menegaskan, pembangkit panas bumi tetap menjadi tulang punggung bisnis.

“Meskipun segmen angin menghadapi kondisi lebih menantang, aset panas bumi kami menghasilkan listrik stabil,” katanya. (DIN/GIT)
Leave a comment