Jakarta, Situsenergi.com
Neraca perdagangan Indonesia membuka tahun 2026 dengan kabar baik sekaligus peringatan serius. Badan Pusat Statistik mencatat surplus sebesar USD0,95 miliar pada Januari 2026. Namun, di balik angka positif itu, sektor minyak dan gas justru menjadi sumber tekanan terbesar karena defisitnya semakin dalam.
Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengungkapkan sektor migas masih menjadi titik lemah dalam struktur perdagangan nasional.
“Komoditas migas masih mengalami defisit USD2,27 miliar. Lonjakan impor migas menjadi faktor utama yang menekan kinerja,” ujar Ateng di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Surplus Tetap Terjaga, Nonmigas Jadi Penyelamat
Secara total, Indonesia membukukan ekspor senilai USD22,16 miliar pada Januari 2026. Angka ini tumbuh 3,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ekspor nonmigas menjadi penopang utama surplus perdagangan.
Namun, di sisi lain, impor nasional melonjak jauh lebih tinggi. Nilai impor mencapai USD21,20 miliar atau naik 18,21 persen secara tahunan. Lonjakan ini mempersempit selisih antara ekspor dan impor, sehingga surplus yang tercipta relatif tipis.
Kondisi ini menunjukkan bahwa surplus perdagangan masih sangat bergantung pada kekuatan sektor nonmigas.

Impor Migas Melonjak Tajam, Jadi Beban Terbesar
Lonjakan impor migas menjadi sorotan utama. Nilainya mencapai USD3,17 miliar, atau melonjak 27,52 persen dibandingkan Januari 2025. Kenaikan ini jauh melampaui pertumbuhan ekspor migas, sehingga gap perdagangan di sektor energi semakin melebar.
Ateng menegaskan kondisi ini tidak bisa diabaikan.
“Kinerja migas masih menjadi tantangan serius karena impor meningkat signifikan, sementara ekspor belum mampu mengimbangi,” tegasnya.
Defisit migas yang konsisten menunjukkan Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.
Alarm Ketergantungan Energi Impor Makin Nyata
Meski neraca perdagangan nasional masih mencatat surplus, tren defisit migas menjadi sinyal risiko jangka panjang. Ketergantungan tinggi pada impor energi membuat stabilitas perdagangan menjadi rentan, terutama jika harga energi global mengalami kenaikan.
Situasi ini juga memperlihatkan pentingnya memperkuat produksi energi domestik dan mendorong diversifikasi sumber energi. Tanpa langkah strategis, surplus perdagangan berpotensi melemah karena tekanan impor migas terus berlanjut.
Surplus Januari 2026 memang memberi angin segar bagi perekonomian. Namun, defisit migas yang mencapai USD2,27 miliar menjadi pengingat bahwa fondasi perdagangan Indonesia masih menghadapi tantangan besar. (DIN/GIT)
Leave a comment