Home MIGAS Musim Dingin di Amerika Tak Seburuk Perkiraan, Harga Minyak Melemah
MIGAS

Musim Dingin di Amerika Tak Seburuk Perkiraan, Harga Minyak Melemah

Share
Mantap!! Dua Ladang Migas di RI Masuk 5 Terbesar Dunia
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak melemah, Kamis, karena perkiraan untuk musim dingin Amerika yang hangat mengerem reli yang sempat mendorong harga ke level tertinggi tiga tahun di atas USD86 per barel pada awal sesi, dipicu pasokan yang ketat dan krisis energi global.

Cuaca musim dingin di sebagian besar Amerika Serikat diperkirakan lebih hangat dari rata-rata, menurut National Oceanic and Atmospheric Administration, yang dirilis Kamis pagi.

“Laporan itu, menunjukkan kondisi yang lebih kering dan lebih hangat di seluruh Amerika bagian selatan dan timur, memberikan tekanan pada kompleks energi tersebut,” kata Bob Yawger, Direktur Mizuho.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup anjlok USD1,21 menjadi USD84,61 per barel, setelah menyentuh USD86,10 pada sesi itu, level tertinggi sejak Oktober 2018, demikian mengutip laporan  Reuters,  di New York, Kamis (21/10/2021) atau Jumat (22/10/2021) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, menyusut 92 sen menjadi USD82,50 per barel.

Harga reli pada sesi Rabu ketika Badan Informasi Energi AS melaporkan persediaan minyak mentah dan bahan bakar yang lebih ketat, dengan stok minyak mentah di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma, jatuh ke level terendah tiga tahun.

“Pedagang yang telah menetapkan USD86 sebagai ambang penjualan mereka mengambil kesempatan untuk mengantongi beberapa keuntungan,” kata Louise Dickson, analis Rystad Energy. “Akibatnya, harga minyak turun.”

Harga Brent melambung lebih dari 60% tahun ini, didukung peningkatan pasokan yang lambat oleh Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya yang dikenal secara kolektif sebagai OPEC Plus, serta krisis batu bara dan gas global yang mendorong pembangkit listrik untuk beralih ke minyak mentah.

Minyak juga mendapat tekanan dari penurunan harga batu bara dan gas alam. Di China, batu bara anjlok 11 persen, memperpanjang kerugian pekan ini sejak Beijing mengisyaratkan akan melakukan intervensi untuk mendinginkan pasar.

Namun, beberapa analis memperkirakan minyak akan reli lebih lanjut karena OPEC Plus kemungkinan tetap pada rencananya untuk meningkatkan produksi secara bertahap, kendati permintaan diprediksi mencapai tingkat pra-pandemi.

Rystad mengatakan prospeknya tetap  bullish  untuk sisa tahun ini dan Giovanni Staunovo, analis UBS, memperkirakan Brent akan diperdagangkan di USD90 pada Desember dan Maret. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PHR Gaspol Produksi Migas, EPF Baru di Libo GS Resmi Beroperasi

LIBO, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan resmi mengoperasikan Early...

CCS Indonesia Makin Ngebut, PHE Bidik Peluang Ekonomi Baru dari Karbon

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mempertegas langkah dekarbonisasi lewat pengembangan...

Pertamina Hulu Indonesia Gebrak Konservasi Orang Utan, 600 Ribu Pohon Ditanam di Kalimantan

Balikpapan, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) memperkuat konservasi orang utan di...

236 Program Sosial PHE Bertarung, Dua Wilayah Sabet Gelar Tertinggi CID Award 2026

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Hulu Energi (PHE) kembali mengapresiasi berbagai terobosan pemberdayaan...