Home ENERGI TERBARUKAN Kurtubi: Sudah Waktunya Indonesia Pikirkan PLTN Sebagai Energi Primer
ENERGI TERBARUKANOPINI

Kurtubi: Sudah Waktunya Indonesia Pikirkan PLTN Sebagai Energi Primer

Share
Pengamat Energi, Kurtubi
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia merupakan alternatif terakhir sumber energi yang disiapkan, setelah sebelumnya mengembangkan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) lainnya seperti pembangkit tenaga air, mikrohidro, biomassa, energi panas bumi, bayu, energi surya serta energi alternatif lainnya yang skalanya masih sangat kecil dibandingkan kapasitas dari pembangkit listrik berbahan energi fosil. 

Padahal menurut Pengamat Energi, Kurtubi, PLTN merupakan sumber energi bersih yang memiliki kapasitas besar, serta menghasilkan listrik yang harganya jauh lebih murah ketimbang pembangkit EBT lainnya. Menurutnya, sudah saatnya pemerintah memperhitungkan PLTN sebagai sumber energi primer di Indonesia. 

“Sekarang listrik dengan Biaya Produksi Listrik (LCOE) paling murah adalah Nuclear Power Plant (PLTN) generasi terbaru, generasi ke4. Baik berbasis Uranium ataupun Thorium, dimana kedua SDA (Sumber Daya Alam/Bahan Baku) Nuklir ini ada ditanah air,” demikian disampaikan Kurtubi kepada awak media, Jumat (8/10/2021). 

PLTN, kata Kurtubi, bahkan lebih murah daripada PLTU batubara sekalipun. Maka itu menurutnya, pemerintah sebaiknya fokus saja kepada PLTN ketimbang pembangkit listrik yang notabene masih menimbulkan biaya mahal. 

“Misalnya PLTN berbasis Thorium dengan Teknologi dan desain MSR, LCOE/BPP listriknya lebih murah dari PLTU Batubara. Sehingga pembangkit yang seperti ini yang mestinya harus dipercepat,” jelasnya. 

Kurtubi juga menegaskan, menganggap PLTU batubara murah adalah salah besar, sebab penghitungan BPP PLTU batubara selama ini belum memperhitungkan externality cost nya. 

“Listrik dari PLTU batubara dianggap murah adalah salah, karena dalam menghitung BPP nya belum menginternalkan Externality Costnya. Sementara listrik dari Energi Terbarukan selain Listriknya ‘hidup-mati-hidup’ dan kalau listriknya hendak dimasukkan ke sistem Grid Transmisi PLN, listriknya jadi mahal karena stroomnya ‘masuk-keluar-masuk’, membuat transmisi dan Base Load PLN harus keluar biaya lagi agar industri yang beroperasi 24 jam gak terganggu, akibat Listrik yang secara alamiah memang bersifat ‘hidup-mati-hidup’,” pungkasnya. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Batubara, Listrik, dan Negara yang Tidak Boleh Pura-Pura Netral.

Ketika Komoditas Menyala Menjadi Politik Oleh : Andi N Sommeng Batubara di...

Waste to Energy: Sampah Naik Kelas

Tong Sampah yang Jujur. Oleh : Andi N Sommeng Sampah adalah autobiografi...

HILIRISASI MINERBA DALAM FILOSOFI KONSTITUSI: Indeks Hilirisasi – Kesehatan Fiskal

Oleh: Gunawan Adji* Perdebatan mengenai hilirisasi mineral dan batubara (minerba) selama ini...

SOFYANO ZAKARIA : Pembongkaran Kasus Jual Beli BBM PT AKT Menjadi Titik Balik Pembenahan Tata Kelola Energi Nasional

Jakarta, situsenergi.com Pengamat Kebijakan Energi, Sofyano Zakaria, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada...