Home MIGAS Kekhawatiran Oversupply Bikin Harga Minyak Turun Dua Persen
MIGAS

Kekhawatiran Oversupply Bikin Harga Minyak Turun Dua Persen

Share
Minyak Menguat di Tengah Penurunan Stok AS
Ilustrasi Pengeboran minyak (Ist)
Share

Jakarta, Situsenergi.com 


Harga minyak anjlok lebih dari 2 persen, Rabu, setelah produsen minyak global (OPEC Plus) berkompromi tentang pasokan dan data Amerika menunjukkan permintaan sedikit berkurang dalam pekan terakhir.

Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi yang tidak terlihat dalam hampir tiga tahun, tetapi akhir-akhir ini agak berombak di tengah kekhawatiran tentang kenaikan pasokan.


Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup merosot USD1,73 atau 2,26 persen, menjadi USD74,76 per barel, demikian dikutip dari laporan  Reuters,  di New York, Rabu (14/7/2021) atau Kamis (15/7/2021) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, menyusut USD2,12, atau 2,82 persen, menjadi USD73,13 per barel.


Premi minyak mentah Brent terhadap WTI melebar ke level tertinggi sejak 6 Juli, menurut data Refinitiv Eikon. Kejatuhan WTI lebih tajam karena kekhawatiran permintaan.


Minyak awalnya turun setelah  Reuters  melaporkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mencapai kompromi yang akan membuka kesepakatan OPEC Plus untuk meningkatkan pasokan global saat dunia pulih dari pandemi virus corona.

Kedua patokan itu merosot lebih dalam setelah data pemerintah Amerika menunjukkan permintaan bensin tersirat menurun jauh minggu lalu. Kendati Badan Informasi Energi Amerika mengatakan stok minyak mentah turun lebih dari ekspektasi, dalam penurunan kedelapan berturut-turut, penarikan itu dibayangi oleh permintaan bensin yang kurang menggembirakan.

“Penurunan signifikan dalam permintaan bensin dan solar menekan harga, meski persediaan terus menyusut,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates di Houston.


Stok bahan bakar Amerika lebih tinggi, saat operasi pengilangan berkurang. Stok bensin naik 1 juta barel, dibandingkan ekspektasi untuk penurunan 1,8 juta barel.


Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, dikenal sebagai OPEC Plus, berselisih mengenai peningkatan pasokan karena permintaan dari Uni Emirat Arab bahwa kontribusinya terhadap pengurangan pasokan dihitung dari tingkat produksi yang lebih tinggi.


Perjanjian itu sekarang bakal membuka jalan bagi anggota OPEC Plus untuk memperpanjang kesepakatan guna mengekang output hingga akhir 2022, sumber menambahkan, meski Kementerian Energi UEA mengatakan tidak ada kesepakatan dengan OPEC Plus yang telah dicapai dan diskusi masih berlanjut.


Juga menambah potensi kelebihan pasokan adalah minyak mentah dari Iran, kata Bill Farren-Price, Direktur Enverus.

Bagi keseimbangan pasar, dua yang terpenting adalah waktu kesepakatan antara Iran dan kekuatan Barat, yang dapat menyebabkan peningkatan ekspor, serta pasokan yang datang dari Amerika.

“Kita perkirakan Iran akan kembali dengan kekuatan tertinggi, tetapi waktunya adalah sebuah pertanyaan.” (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Hilirisasi Batu Bara Digeber! Pertamina–MIND ID Siapkan DME Pengganti LPG Impor

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) dan Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID...

RDMP Balikpapan Dikebut! Proyek Rp123 T Jadi Tulang Punggung Energi Nasional

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) terus menggeber Proyek Refinery Development Master Plan...

PDSI Buka 2026 dengan Doa Bersama, Tegaskan Komitmen Keselamatan dan Ketahanan Energi

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) mengawali tahun 2026 dengan...

Proyek Geothermal PGE Lahendong Dijaga Ketat, Ini Strategi Amankan Operasi & Risiko

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) semakin serius mengawal proyek...