Home ENERGI Realisasi Investasi Sektor Hulu Migas Naik 11 Persen
ENERGI

Realisasi Investasi Sektor Hulu Migas Naik 11 Persen

Share
Share

Jakarta, Situsenergy.com

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan realisasi penerimaan negara dari sektor hulu migas hingga triwulan III 2019 sebesar USD10,99 miliar. Realisasi ini belum memenuhi target yang ditetapkan dalam APBN 2019.

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, mengatakan bahwa faktor penyebab masih rendahnya penerimaan negara dikarenakan lifting migas (minyak dan gas bumi) yang juga belum mampu penuhi target. Tercatat lifting migas hingga September 2019 sebesar 2 juta barel setara minyak per hari/barrel oil equivalent per day (boepd). Lifting ini setara 89 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebesar 84 persen total lifting hulu migas merupakan kontribusi dari sepuluh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) utama dan16 persen didukung 80 KKKS lainnya.

“Hal ini (penerimaan negara) juga dipengaruhi ICP (Indonesia Crude Price) yang sebesar 60an dolar per barel. Ini cukup jauh di bawah target asumsi makro APBN yaitu USD70,” kata Dwi Soetjipto dalam keterangan persnya, Kamis (24/10).

Sementara itu, investasi hulu migas hingga bulan September 2019 sebesar USD8,4 miliar atau meningkat 11 persen dibandingkan investasi di kuartal tiga tahun 2018 sebesar USD7,6 miliar. Investasi hulu migas ke depan akan terus meningkat mengingat hingga tahun 2027 terdapat 42 proyek utama dengan total investasi USD43,3 miliar dan proyeksi pendapatan kotor (gross revenue) sebesar USD20 miliar.

Total produksi dari 42 proyek tersebut 1,1 juta boepd yang mencakup produksi minyak sebesar 92,1 ribu bopd dan gas sebesar 6,1 miliar kaki kubik per hari. Empat di antaranya merupakan proyek strategis nasional (PSN) hulu migas yang menjadi prioritas untuk meningkatkan produksi migas demi memenuhi konsumsi migas domestik yang semakin meningkat.

Peningkatan kapasitas nasional yang dilakukan hulu migas bukan hanya dengan mendukung kebutuhan energi, tetapi juga dengan melakukan efisiensi biaya dan efek berganda (multiplier effect) yang mendukung perekonomian daerah dan nasional. Tingkat komponen dalam negeri (TKDN di industri hulu migas hingga awal Oktober 2019 telah mencapai angka 55 persen dari target 50 persen di tahun 2019.

Dwi menyatakan nilai efisiensi dari nota kesepahaman tentang penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan PT. Pertamina (Persero) mencapai Rp 294 miliar, sedangkan dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencapai Rp33 miliar.

“SKK Migas terus mengedepankan efisiensi di industri hulu migas, baik dengan kolaborasi kerja sama strategis dengan Pertamina dan Garuda Indonesia, maupun dengan pecepatan proses tender,” pungkas Dwi. (DIN/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

PNBP ESDM Tembus Rp138,37 T di 2025, Bahlil: Harga Turun Bukan Halangan

Jakarta, situsenergi.com Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kinerja positif...

Hub Biomassa Tasikmalaya–Ciamis Diresmikan, Perkuat Ketahanan Energi Lokal

Jakarta, situsenergi.com Direktur Bioenergi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Hokkop...

Kado Tahun Baru! Harga Pertamax Turun, Ini Daftar Lengkap BBM Pertamina

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) membuka awal 2026 dengan menurunkan harga bahan...

PLTS Percontohan Diluncurkan Di Pulau Sembur

Batam, Situsenergi.com Kementerian Koperasi bersama Pertamina melalui Pertamina NRE meluncurkan Pembangkit Listrik...