Home OPINI Menyelesaikan Masalah Masela
OPINI

Menyelesaikan Masalah Masela

Share
Menyelesaikan Masalah Masela
Share

Oleh: Salis S. Aprilian

Banyak media menyoroti keberhasilan kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea beberapa hari yang lalu, yang mendapatkan komitmen investasi hingga 574 triliun.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa tercapai kesepakatan berupa penanda tanganan berbagai nota kesepahaman (MoU) antar pelaku usaha dengan total nilai sebesar USD 10,2 miliar (Rp. 173 triliun) di Korea dan USD 23,6 miliar (Rp. 401 triliun) di Jepang.

Kerjasama dengan Korea akan meliputi pembangunan infrastruktur, perumahan, dan investasi berbasis teknologi. Sedangkan kerjasama investasi dengan Jepang kabarnya akan mencakup sejumlah peoyek di sektor energi dan transisi energi, termasuk pengembangan minyak dan gas bumi dengan focus pada Proyek Masela.

Selama lebih dari satu dekade, Blok Masela lebih sering hadir sebagai bahan perdebatan ketimbang sebagai solusi. Ia dibicarakan di ruang rapat, diperdebatkan di meja kebijakan, tapi masih terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia—terutama mereka yang tinggal di Indonesia Timur.

Padahal, di banyak wilayah timur, listrik masih belum stabil, industri sulit tumbuh karena mahalnya energi, dan potensi ekonomi lokal sering tertahan hanya karena satu hal sederhana: energi belum tersedia secara andal dan terjangkau.

Di sinilah Masela seharusnya mengambil peran.

Jika Masela hanya dilihat sebagai proyek ekspor LNG, maka manfaatnya akan berhenti di angka-angka penerimaan negara. Sebaliknya, jika dipaksakan sepenuhnya untuk domestik, proyek ini berisiko tidak layak secara ekonomi. Karena itu, jalan yang paling masuk akal adalah pendekatan hybrid —sebagian untuk ekspor, sebagian untuk membangun fondasi energi di Indonesia Timur.

Pendekatan ini bukan sekadar kompromi, tetapi justru membuka peluang baru.

Bayangkan gas dari Masela tidak hanya dikirim ke luar negeri dalam bentuk LNG, tetapi juga langsung mengalir—melalui kapal CNG—ke Ambon, Sorong, Kendari, hingga Kupang. Bukan lagi wacana pembangunan jaringan pipa besar yang mungkin akan memakan waktu puluhan tahun, tetapi solusi yang bisa bergerak lebih cepat, menjangkau pulau-pulau yang selama ini sulit terhubung.

Teknologi CNG hari ini sudah berkembang jauh. Dengan sistem carousel, gas dapat diangkut dalam jumlah besar dan berfungsi seperti “pipa berjalan” di laut, atau dikenal juga sebagai “virtual pipeline”. Ini bukan sekadar konsep teknis, tetapi solusi nyata untuk geografi Indonesia yang berbentuk kepulauan.

Lebih menarik lagi, saat gas tersebut diturunkan tekanannya di terminal penerima, energi yang dilepaskan bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Artinya, satu aliran gas tidak hanya memberi bahan bakar, tetapi juga langsung menghasilkan daya bagi masyarakat sekitar.

Namun, tentu saja, teknologi bukan satu-satunya tantangan.

Masela adalah proyek besar dengan biaya besar. Untuk bisa berjalan, harga gasnya tidak bisa terlalu murah. Di sisi lain, sektor kelistrikan kita—terutama PLN—tidak selalu mampu membeli gas dengan harga tinggi tanpa berdampak pada tarif listrik masyarakat.

Di sinilah peran kebijakan menjadi sangat penting.

Kita membutuhkan skema yang tidak kaku—sebuah PSC (Production Sharing Contract) generasi baru yang mampu menjembatani kepentingan investor dan kebutuhan nasional. Sebagian keuntungan dari ekspor LNG bisa digunakan untuk mendukung harga gas domestik. Bukan sekadar subsidi, tetapi mekanisme yang dirancang sejak awal sebagai bagian dari sistem.

Pendekatan ini membuat Masela tidak hanya menguntungkan di atas kertas, tetapi juga terasa manfaatnya di lapangan.

Dari sisi teknis, Masela memang bukan proyek sederhana. Lapangan ini berada di laut dalam, dengan kandungan CO₂ yang tinggi, sehingga membutuhkan teknologi pengolahan yang kompleks, termasuk pemisahan gas dan sistem CCS. Biayanya besar, risikonya juga tidak kecil.

Namun justru karena itulah, desain sistemnya harus cerdas.

Sebagian gas bisa langsung dikompresi di fasilitas lepas pantai dan dikirim sebagai CNG ke pasar domestik. Sebagian lainnya dialirkan ke darat untuk diolah menjadi LNG dan diekspor. Ini bukan sekadar pilihan teknis, tetapi strategi untuk memaksimalkan nilai.

LNG, dengan densitas energinya yang tinggi, jauh lebih efisien untuk pengiriman jarak jauh. Sementara CNG, yang lebih fleksibel dan tidak memerlukan proses pencairan, sangat cocok untuk distribusi antar pulau di dalam negeri.

Dengan kata lain:

  • LNG menjaga proyek tetap menguntungkan
  • CNG memastikan manfaatnya sampai ke masyarakat

Jika keduanya berjalan bersama, kita tidak perlu lagi memilih antara “ekspor” atau “domestik”. Kita bisa mendapatkan keduanya.

Pada akhirnya, Masela bukan hanya tentang gas. Ia adalah tentang bagaimana kita memilih untuk membangun negeri ini—apakah hanya mengejar angka ekspor, atau juga memastikan bahwa energi benar-benar hadir di tempat yang paling membutuhkannya.

Masela memberi kita pilihan.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kita punya kesempatan untuk memilih dengan cara yang berbeda.[]

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Nozzle Tenang, Negara Menahan Napas

Oleh : Andi N Sommeng Di SPBU, semuanya berjalan normal.Motor antre. Mobil...

Puskepi: Poltical Will Presiden Harus Bisa Mewujudkan Ketahanan dan Kedaulatan Energi Nasional

Jakarta, situsenergi.com Pengamat kebijakan energi yang juga Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik...

Akhirnya Political Will Elektrifikasi itu Datang?

Oleh: Defiyan CoriEkonom Konstitusi Indonesia memasuki tahapan (fase) yang tidak mudah sejak...

Negeri Setengah Fakta Ketika Statistik, Buzzer, dan Media Mendorong Narasi

Oleh : Andi N Sommeng Di zaman banjir informasi, kebohongan sering tidak...